Tuesday, July 5, 2016

Siap Ngampus bareng Patlaborcamp 2016

“Jangan pernah selalu siap kuliah, karena di saat itulah kamu akan berhenti belajar.” –Luthfi Muhammad Iqbal

Well, harusnya cerita ini ditulis dari lama, setelah kegiatannya selesai biar lebih berasa fresh from the oven, tapi baru sekarang kesampaian aku cerita soal acara Patlaborcamp 2016. Apa sih Patlaborcamp itu? Ya, singkatan dari Preparatory Training for Leaders Before Campus, intinya sih semacam acara buat anak SMA yang baru lulus supaya lebih siap berkuliah. Got it? Ya seperti itulah~


Ngapain aja sih di Patlaborcamp? Banyak! Berhubung kayak ajang buat prepare sebelum ngampus, ya konten acaranya nggak jauh beda sama kegiatan ala perkuliahan meski dalam taraf yang lebih sederhana, ada mentoring, kuliah umum, UAS, talkshow, unit mahasiswa, himpunan, sampai BEM!

Jadi para peserta tuh terbagi dalam tiga jurusan, ada Teknik, Sosial, dan Seni. Berhubung aku bakal kuliah di jurusan kesaintekan, ya sudah aku pilihnya Teknik, padahal jurusanku lebih ngarah ke Sainsnya ._. Awalnya sih shock banget ya, tau-tau ada bagian di waktu sibuk dimana kita harus belajar, iya belajar lagi, kayak masuk kelas yang diisi dosen gitu ditambah ada sesi ujiannya juga. Padahal liburan ini aku nggak banyak buka buku lho, miris parah ><

Acaranya seru dan ilmunya dapat banget, sekalian aku juga mau sharing disini soal apa sih bedanya masa sekolah dan masa kuliah? Yang jelas, dari katanya aja udah beda, ada banyak hal-hal baru yang bakal kita temukan nanti kalau sudah dicap jadi mahasiswa. Tjiee...


KULTUR
Soal suasana yang bakal kita alami ketika berada di kampus, hawa yang dirasakan seringnya beda aja gitu. Kita bakal bertemu dengan banyak hal yang berbeda-beda, apakah itu dari suku, agama, ras, golongan, dan ciri perbedaan lainnya. Jelas dong, kampus bukan hanya untuk satu daerah regional aja, se-Indonesia lho itu, dan kerennya masing-masing anak ngebawa kultur mereka tersendiri yang pasti nggak sama satu dengan lainnya.

WAKTU
Mungkin pas SMA, kalau teman ikut ekskul ini, kita ngikut. Teman ikut organisasi itu, kita ngikut. Teman ngebolos, kita juga ngikut. Tapi tentu saja ketika di kampus, hal ini nggak berlaku sama sekali. Setiap orang bakal punya prioritas dan kegiatan mereka masing-masing, ada yang di kuliahan cuma ngambis belajar, ada yang sibuk organisasi, ada yang gabung kepanitiaan, dan ada yang cuma kupu-kupu doang. Ntar, kita nggak bisa lagi ngelakuin apa yang dinamakan “ikut-ikutan temen” deh.

MANUSIA
Orang-orang yang kita kenal nantinya juga bakal punya keyakinan dan pemikiran beragam. Kita nggak bisa maksa untuk satu jalur pemikiran yang sama dengan mereka. Diskusi, forum, debat, kayaknya bakal jadi makanan keseharian mahasiswa demi memutuskan sesuatu, bahkan mutusin untuk makan apa, dimana, dan dengan siapa *apasih*.


Tiga poin tadi aku dapat dari Kak Luthfi, Menteri Koordinator Sosial Politik Kabinet Nyala KM ITB 2016 di talkshow hari pertama Patlaborcamp. Ada tambahan juga dari Kak Ridhan, Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro ITB 2016 soal sesuatu yang berbeda di kampus. Lanjut baca ya :*

TANGGUNG JAWAB
Sewaktu SMA, mungkin tanggung jawab kita masih cukup sederhana, katakanlah kita sekolah untuk orangtua. Tapi, menginjak bangku kuliah *itu kasian ya bangkunya diinjek!* hal ini berlainan lagi, tanggung jawab mahasiswa bukan saja untuk keluarganya, tapi akan lebih banyak lagi orang yang perlu ditanggungjawabi, sebut saja masyarakat. Itulah kenapa, mahasiswa menyandang kata “maha” karena di pundaknya ia menanggung beban bagi jutaan rakyat yang menaruh harapan padanya *asyik ya kata-katanya, hehe*.

PEMIKIRAN
Seiring tumbuh usia seseorang, berkembang jugalah pemikirannya. Nggak salah, karena mayoritas mahasiswa biasanya sudah berumur... lebih dari 17 tahun. Sisi kedewasaan bakal muncul bahkan tanpa disadari sekalipun, kami *ciee kami* mulai bisa memilah dan memilih keputusan mana yang menurut pandangan mahasiswa benar adanya, jadi lebih objektif karena hampir melihat dari segala sudut pandang.

MENTAL
Siapa yang pernah ikut latihan dasar kepimpinan dan dikatain mental tempe sama kakak kelas hanya karena kurang tegap dalam baris-berbaris? Kebanyakan calon anak OSIS/MPK pasti pernah mengalami hal serupa kayak gitu, dan mungkin “tempe” di SMA bakal berubah jadi “baja” di kampus. Mahasiswa nggak lagi sibuk penasaran sama hal-hal “baru”, udah bukan saatnya dan emang nggak zamannya lagi, karena ketika jadi mahasiswa itulah saatnya mengukuhkan jati diri dan identitas, nggak kayak ABG baru netas yang masih nyari-nyari dimana jati diri mereka. Mungkin ada di kolong kasur, oke ini kalimat mubazir.

"Karena negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kekurangan perenungan". -Sudjiwo Tedjo [ long caption and ngomongin orang warning ] Allah Maha Baik, tiga hari dua malam yang singkat untuk dipertemukan dengan orang-orang super keren ntapsss beud, buat 'pak dokter' yang gak ikut , lo nyesel parah. Thanks to teman empat tahun yang legok di pipi dan tingginya bikin ngiri sekaligus the most participant and coolest moderator yang aku sayangi, ketemu lagi sama teman seranjang dan temen di barak learning camp kemarin, ada temen sefakultas yang empat tahun ke depan bakal barengan, admin UNSMP2013 bersama kembaran fraternalnya, tukang nagih uang fee gathering fakultas sebelah yang ketemu pas daftar ulang, calon desainer yang ngasih kartu nama, calon anak DKV yang sebelahan tidurnya, geng madrasah yang ribut pas lagi talkshow, duo MC yang riweuh teu puguh tapi bikin semarak perform unit, rekan yang kepleset jatuh di kamar mandi, ukhti bercadar, temen sementor dan sekelas yang ribet pengen pindah ke Seni, orang Bali padahal aslinya Bandung, kamu yang tinggi dan mukanya mirip kakak panitia, anak 13 tahun yang ikut SBMPTN kemarin, PJS himpunan yang dihukum joget mulu, calon FKers yang olimpiade Matematika, duo kembaran yang akhirnya bisa ngebedain mana si ini dan si itu, tukang puisi drama unit yang juga anak dubas, ketua himatek yang jadi mapres Teknik, asli Garut calon ketua BEM yang ngundurin diri taunya admin Math Q&A, ketua BEM terpilih yang mendadak diajuin buat ngeganti yang sebelumnya, anak popnas sporty, mang satpam tukang jewer, saingan kandidat Ketua BEM sekaligus perantara tukang sewa sleeping bag, peserta yang dihukum gegara tidur pas talkshow taunya jadi mapres Seni, dan lain-lain, dan lain-lain, thanks for the ah.maa.zeeeeng with you guys, nambah cerita baru di hidup aku. Tetap solid, keren, kompak, dan jaga silaturahim, mewujudkan Patlaborcamp 2017 yang OWSOM dan nggak php soal rendang tempe! Valak haaaa...haaa...haaaa... #Patlaborcamp2016
Foto kiriman Asy-syifaa Halimatusa'diah (@asysyifaahs) pada


Buat teman-teman mahasiswa, pasti tau apa yang dinamakan segitiga kegiatan. Iya, semacam diagram yang hanya memperbolehkan kita memilih dua dari tiga hal, antara akademis, organisasi, dan istirahat. Kalau kamu pilih, mau ambil yang mana tuh? :D Intinya sih, segitiga yang ini harus disiapkan dan dipilih dari sekarang, nanya sama hati “kita mau jadi apa ntar di kampus?”

Yang paling fundamental adalah bisa berlomba dengan standar sendiri dan mampu keluar dari zona nyaman. Karena saat keluar dari zona nyaman kita, saat itulah kita bisa tumbuh. Tahu kan pepatah yang bilang “life begins at the end of your comfort zone”? It’s because the comfort zone is a beautiful place, but nothing ever grows there.

Intinya adalah, seberapa beda pun antara sekolah dan kuliah, yang terpenting... BE THE BEST VERSION OF YOU. Kalimat be yourself mungkin oke, tapi kalau jadi diri sendiri yang kurang baik, gimana dong? Makanya, jadilah sebaik-baiknya manusia yang bisa bermanfaat buat orang lain juga.

Balik soal Patlaborcamp, masih ada cerita yang mau aku tulis. Nanti ya, tunggu, para pematerinya ngasih cerita yang kece abis. C u :* Oh iya, sekalian, berhubung besok sudah berhari raya, aku mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H, mohon maaf kalau selama ini Syifa punya banyak salah apapun ke teman-teman. Minal aidzin wal faidzin, maafkan lahir dan batin ya :)

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥