Sunday, September 7, 2014

Drama BBM

Bukan hal yang mudah bagiku untuk merelakan sesuatu yang hilang. Contoh teranyar saja, handphone Acer nyaris hilang di kelas, eh taunya dijadikan bahan becandaan teman-teman, disembunyikan. Aku di-bully padahal ulangtahunku baru lewat tiga hari ini :P

Kehilangan orang mungkin pernah, dan pasti pernah, yang paling menyesakkan adalah kehilangan sahabat yang hingga saat ini makamnya belum pernah aku ziarahi, Almh. Nurul Febrianti. Kehilangan benda juga, salah satunya adalah kuitansi pembayaran administrasi sekolah yang jadi bukti kalau aku udah bayar SPP bulan Juli-Agustus lalu, sayangnya catatan penting itu hilang, dan kami berdua—aku dan Mamah—kerepotan mencari selembar kertas itu. Kemana ya?


Satu kehilangan yang menurutku lain dari biasanya adalah... aku merasa kehilangan suasana. Suasana kebersamaan dengan seseorang. Tidak begitu penting sebenarnya, tapi entah kenapa ketika saling berbalas BBM, aku selalu dibuat melimbung, seolah-olah ada kupu-kupu berterbangan di dalam perut. Oh, ternyata Asyifa jatuh cinta, hihi. Tidak, maksudnya sedang menyukai seorang kakak kelas dengan kharismanya. Dia aneh, tapi lucu.


Percakapannya dimulai dari pertanyaan seputar kegiatan anak muda, berlanjut ke cerita tentang sekolah, sampai kepada hal-hal sepele. Menurutku, itu sudah menjadi satu kemajuan, yang biasanya kontak BBM kakak yang satu ini HANYA menjadi kontak saja, tanpa pernah saling menyapa.

Tapi, sebenarnya apa yang bikin kamu senang sih? Toh, kalian hanya ngobrol tentang hal lain kok, bukan hal-hal yang mungkin sifatnya lebih pribadi, misalnya tentang ‘udah ngerjain PR belum?’, ‘lagi ngapain?’, dan percakapan klise ala orang pacaran. Kamu masih biasa aja, Syif!

Begitu kata Nurghi ketika ditanyai pendapatnya soal curhatan aku tentang hal itu. Iya ya, kami memang nggak pernah ngobrol hal lain selain tentang sekolah dan tetek bengeknya. Terus kenapa aku ngerasa bahagia banget?

Semenjak saat itu, sebenarnya cukup kecewa dengan tanggapan Nurghi. Moodbreaker. Tapi, seolah-olah setuju dengan pendapatnya, kakak yang satu ini tidak lagi tanggap dengan obrolan kami via BBM. Yang biasanya bisa membalas dengan lebih cepat, tapi kali itu nggak lagi. Obrolannya ceklis, untuk Delivered butuh waktu lama, apalagi untuk Read—perlu ganti hari dulu, dan balasannya baru aku dapatkan setelah pulang sekolah. Satu kalimat percakapan butuh waktu satu hari, Ya Tuhan~

Aku nggak lagi dapat balasan apa-apa setelah pertanyaan terakhirku. Dia yang memulai percakapan, dan aku yang mengakhirinya. Empat hari, dan rasanya cukup senang ketika ada gunanya juga kontak doi di BBM, nggak cuma jadi pajangan list doang. Hih!

Ketika bertemu di sekolah, tidak terlalu sering dan pertemuannya selalu aneh. Contohnya saja, kami saling kontak mata dengan jarak pandang jauh—aku dari Lab. Biologi di lantai dua, dan kakak itu dari gerbang masuk sekolah; terus saat hampir beradu di lorong ekskul Mading; dan kemarin berjalan bersisian dengan jarak dari ujung lapangan ke ujung lapangan *nggak papa, yang penting istilahnya bersisian*. Aku nggak begitu berharap kami sering bertemu sih, lagipula sekalipun aku melihatnya, hanya bisa puas dengan pandangan arah belakang, bukan memandang orangnya tapi tas sekolahnya. Heran ya!

Lalu, apa sekarang? Aku merasa kehilangan, nggak ada lagi bunyi bip menandakan pesan BBM masuk, nggak ada lagi rasa menanti-nanti pesan BBM itu muncul, nggak ada lagi kegelisahan menunggu tanda pesan dari ceklis berubah menjadi D, lalu R, dan tertulis sedang menulis pesan.... Dan aku merasa kehilangan suasana itu. Tidak, aku tidak jatuh cinta dengan kakak itu ternyata, hanya sebatas senang berbahagia karena kami bisa berkomunikasi.

Hmm, terakhir, doakan saja semoga tanggal 8.9.2014 besok, kami—baik aku dan kakak itu—punya kabar yang sama-sama baik. Aku, dengan pemilihan Be Part of Editorial Team (School Editor) dalam GADIS 2015 Annual Edition Team yang semoga lolos tahap seleksi, dan kakak itu dengan pengumuman dari kegiatan yang diselenggarakan di kampus UI. Ah, kalau dikasih tahu acaranya, terlalu mudah menebak siapa kakak itu.

Baca dan share tweet artikelku ya, http://bit.ly/2015GADIS1; http://bit.ly/2015GADIS2; http://bit.ly/2015GADIS3
FYI, kisahnya tidak terlalu drama sih, tapi aku sengaja mendramatisir ceritanya biar lebih tragis, haha. Hidup Asyifa kan memang begitu, apalagi masalah percintaan. Maka, petuahnya adalah... jangan terlalu mengharapkan yang berlebihan, yang pasti-pasti aja :P

by.asysyifaahs♥

3 comments:

  1. Moodbreaker, ya. Hihi ... kirain judul BBM itu bahan bakar minyak loh, soalnya kan lagi in heboh mau naik harga atau enggak :D Ternyataaa... cemezan :D
    Wiiihhh ... keren! masuk nominasi school editor itu gak gampang, apalagi di gadis! semoga lulus... sampe final! jadi jawara, insyaAllah. Berjuang ya! Moga komunikasi kalian membaik lagi^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh, kayaknya tulisan ini nggak jadi Kak Tha, aku balikan lagi, maksudnya bisa BBM-an lagi, uwuwu :D

      Makasih makasih, Alhamdulillah lolos finalisnya nih :D

      Delete
  2. Soal becanda becandaan sama HP saya punya pengalaman lucu walau agak konyol. Singkat ceritaanya gini. Saat saya mengetik di meja, kan HP saya taruh disebelah saya. Keliatan banged HP saya di sebelah. Lalu tiba tiba datang kawan saya pinjem HP mau kirim SMS ke temannya. Ya sangka baik aja. Saya beri HP saya agar dia bisa ngirim SMS ke temannya. Entah urusan apa nda tau.

    Setelah selesai dia pinjam HP saya buat kirim sms, dia pun mengucapkan terima kasih dan pergi. Lalu ada telepon panggilan di HP saya. Ada namanya Seorang Ibu rumah tangga. Dia sms gini " Eh kamu gimana sih kok ngirim SMS ngajak kawin. Ketauan laki gue tauuu" Waaaaaa kaget saya. Siapa yang kirim SMS Ngajak Kawinnn?

    Selidik punya selidik rupanya teman saya yang minjem HP saya buat ngirim SMS itu. RUpanya dia Ngerjain saya. Wahahahah. DIa kirim SMS ngajak kawin ke salah satu nomor secarfa acak di ADDRESS BOOK ku. Oalaaaa

    ReplyDelete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥