Friday, August 1, 2014

#1Hari1Masjid: Masjid Ash-Shiratal Mustaqim

Assalammu'alaikum. Selamat pagi, teman-teman, bagaimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan dalam lindungan Allah ya. Maaf sudah agak lama ini tidak menulis di blog dan melanjutkan konsistensi menulis Ramadhan's Daily. Kenapa? Dikarenakan yang ngetiknya lagi sakit, alhasil cerita harian Ramadhan hanya berakhir di hari ke-18 aja deh. InsyaAllah untuk Ramadhan selanjutnya—jika kita dipertemukan lagi—Syifa akan berusaha lebih konsisten selama satu bulan penuh untuk menulis di blog. Doakan saja semoga Syifa selalu diberi kesehatan oleh Allah Ta'ala ya. Amin...

Dalam kesempatan kali ini, akan repost tulisan #1Hari1Masjid Syifa. Lho kok lagi? Iya, Alhamdulillah Syifa dapat jatah 2 post di awal dan akhir projek sebelum tulisan dari si empunya projeknya sendiri, Kak Primadita. So, check this out!

***

Masjid yang akan Syifa ceritakan kali ini sebenarnya masjid yang dirasa beda dari masjid yang pernah Syifa kunjungi di kota-kota lain. Jika mengingat ketika masih tinggal di Kalimantan Selatan 8 tahun yang lalu, mungkin aneh rasanya jika selama setahun tinggal disana hanya bisa menginjakkan kaki di masjid tersebut untuk yang pertama dan terakhir kalinya.

Masjid yang Syifa sebut bernama Masjid Ash-Shiratal Mustaqim yang berlokasi di Jl. Pangeran Antasari , Tanjung-Tabalong, Kalimantan Selatan. Letaknya yang strategis di dekat alun-alun kota, kantor bupati, dan pusat perbelanjaan Mal Bauntung, membuat aku yakin kalau ternyata sistem macapat itu adalah kebudayaan asli Indonesia yang berlaku di semua daerah, bahkan Kalimantan sekalipun.


Masjid Ash-Shiratal Mustaqim adalah masjid kebanggaan bubuhan Tanjung—termasuk Syifa. Selain mempunyai arsitektur yang megah, masjid yang terletak di lingkaran tengah kota ini juga sering mengadakan kegiatan-kegiatan islami yang bermanfaat, apalagi pada saat bulan Ramadhan ini.

Delapan tahun yang lalu, Syifa mengunjungi masjid ini untuk ikut melaksanakan shalat Ashar. Dulu, bangunan pohon di sekitar masjid masih rindang dan cukup meneduhkan hingga sampai ke bagian jalan di sekitar masjid. Tapi, waktu berubah dan keadaan pun berubah, menurut Bryan—teman Syifa yang tinggal disana—pohonnya sudah ditebang dan ditumbuhi pohon-pohon baru lagi.

Walaupun saat itu Syifa datang di waktu yang tidak tepat, Bryan menuturkan bahwa kegiatan Ramadhan yang biasa dilaksanakan di masjid ini cukup bervariasi. Kegiatan yang paling menarik minat masyarakat adalah adanya safari Ramadhan yang baru saja digelar dari tanggal 3 Juli kemarin dan biasa menjadi ajang untuk menyambut gubernur terhormat Kalimantan Selatan, Bapak H. Rudy Arifin. Sudah sejak 13 tahun yang lalu, kegiatan safari Ramadhan ini dilaksanakan, tidak hanya gubernur, bupati, dan perangkat pemerintahan, tapi juga antusias masyarakat sangat besar termasuk para pelajar sekolah.


Menurut Bryan, di sekolahnya juga sering mengadakan kegiatan pesantren kilat alias sanlat (sama yang sedang Syifa lakukan minggu ini). Namun, berbeda dengan sekolah Syifa, di beberapa sekolah di Tabalong, kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah saja, tapi juga membawa para peserta sanlat untuk mengerjakan kegiatannya di masjid agung (buka bersama, shalat berjamaah, dan tarawih). Sungguh suatu pengalaman yang menyenangkan kalau saja Syifa masih tinggal di sana, hehe!


Nah, selain kegiatan safari Ramadhan yang bertujuan untuk menjalin silaturahim antara pemimpin dan rakyatnya, kegiatan lainnya yang tidak kalah bermanfaat adalah tausiyah berdzikir bersama. Tanggal 21 Juni yang lalu, Ustadz Arifin Ilham yang juga masih merupakan warga banua Kalimantan Selatan itu, pernah hadir ke masjid tersebut untuk melakukan syiar agama melalui dzikir bersama masyarakat Tabalong.


Kembali ke cerita Bryan tadi, kalau boleh dibilang Syifa sedikit iri juga sih ya dengan apa yang sekolah mereka lakukan dalam kegiatan sanlat. Dulu, ketika bersekolah di SDN 1 Tanjung, Ramadhan kami biasanya diisi dengan kegiatan belajar Agama di mushola sekolah, tapi sekali waktu pernah melaksanakannya di masjid jami’ yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari SD. Tapi tetap saja, pasti akan lain rasanya ketika sudah duduk di bangku sekolah menengah. Biar feel dan chemistry sanlat di Ramadhan-nya lebih kerasa, kata Bryan lagi.

Walau bagaimanapun, setiap daerah pasti punya ciri khas masing-masing. Kalau boleh pilih, ingin sekali sementara waktu bisa berkunjung ke sana lagi. Delapan tahun bukan waktu yang sedikit lho, dan tidak mudah memang melupakan pengalaman tinggal di sana. Hmm... doakan saja ya bisa kembali tinggal di sana, xoxo. Amin...

***

Syifa Note: Terimakasih Bryan atas kesempatan dan waktunya untuk ditanyai berbagai macam pertanyaan yang menjadi sumber cerita ini, hehe.

Sumber Gambar:

by.asysyifaahs♥

4 comments:

  1. Semoga selalu sehat dan bisa melanjutkan aktivitas ngeblognya. Selamat berlebaran, ya, Mbak. Mohon maaf lahir dan batin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin, terimakasih doanya. Selamat berlebaran juga, mohon maaf lahir batin :)

      Delete
  2. Masjidnya bagus, kegiatannya jg bagus. Semoga kita bisa selalu meramaikan masjid (dlm makna yg positif tentunya), amiiin... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin... Saya malah tambah kangen kalau bahas masjid ini :D

      Delete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥