Friday, January 10, 2014

Syifa Kecil adalah Icha

Hoi, lagi pengen ikutan sesuatu nih. Yap, kebetulan di temlen lagi ada yang lewat bawain kurma, eh tweet maksudnya, tentang gitu deh :P Yaudahlah, ikutan aja deh...

Jadi nih, ada acara Make Way for #EverlastingLove Giveaway, tadinya nggak jadi ikut karena pertanyaan dikhususkan buat yang udah punya anak. Jadinya, mengundurkan diri karena memang nggak sesuai, tapi... setelah dicek ulang ternyata ada juga buat yang belum punya anak belum kawin belum punya pacar dan belum 17 tahun, lagipula buku #EverlastingLove ini bisa dibaca semua umur kok :P



Oke, mari bercerita tentang pertanyaan yang dilayangkan.

Cerita tentang bagaimana dulu ortumu bekerjasama saat membesarkanmu.

Pada zaman dahulu kala, eh nggak sedulu itu deng :P Waktu pertama kali aku lahir, sebagai anak pertama, Mamah dan Abah –panggilan yang senantiasa menyenangkan, bukan Abah dukun, bukan–, keadaan ekonomi keluarga nggak sebaik sekarang. Kata Mamah, keluarga kecil kami dulu itu lumayan kurang, Abah masih cari kerja kemana-mana, dan belum nemu yang pas sesuai dengan kemampuan dan kemauan.

Syifa kecil yang biasa dipanggil Icha, dulunya ini diasuh dengan kasih sayang orangtua yang bener-bener tulus dan ikhlas banget. Walau masih kekurangan dan tinggal di rumah nenek, tapi ia dibesarkan dengan cinta dua orang tua yang luar biasa. Mamah adalah orang yang benar-benar mempertaruhkan sebagian waktunya untuk Icha, bahkan pernah Mamah nggak bisa tidur semalaman karena terus ngasuh Icha biar bisa tidur nyenyak *abisnya bandel sih, nangis mulu*. Hidup di kampung yang waktu itu masih jauh dari kota besar dan masih sedikit warung-warung dagang, akhirnya Mamah memutuskan untuk memanfaatkan alam dan sekitarnya untuk dijadikan bahan makanan.

Kalau balita kecil dikasih minum susu formula, Mamah dengan sabar dan ikhlasnya memberikan air susu untuk kebutuhan gizi Icha. Kadang, kalau ASI nya lagi nggak ada, Mamah ganti jadi campuran air sama sakarin, yang mungkin dulu masih boleh-boleh aja dipakai.

Kalau balita lain dikasih asupan makanan dengan bubur dan semacamnya, Mamah akan senantiasa memberikan porsi nasinya yang kemudian diemut lalu disuapi ke Icha kecil. Nggak hanya itu, kadang kalau Icha sakit, dan Mamah lagi nggak punya uang untuk beli obat, bahan-bahan dari alam lah yang menyediakan. Misal pas lagi ada luka, daun babadotan lah yang jadi obatnya. Demam panas, dikompres dengan bawang merah yang dihaluskan, katanya biar panasnya pindah ke bawangnya.

Di saat tumbuh jadi anak kecil, banyak mereka yang bisa makan enak. Dulu, daging ayam goreng adalah makanan yang sangat istimewa bagi keluarga kami, dan Mamah lebih rela lagi ngasihin sepotong daging ayam itu buat Icha, demi anaknya. Icha kecil nggak banyak bisa makan-makanan mewah, bahkan dengan ikan asin, sambel terasI, dan nasi hangat yang disuapi Mamah aja udah kerasa istimewa dan mewahnya. Terus juga, biar kalau gede, anaknya suka sambel, nyatanya memang suka tanpa pernah sakit perut yang kewalahan banget.

Abah juga ikut berperan, di saat Mamah capek, Abah berusaha untuk menggantikan tugas Mamah. Gendong Icha, sampai bikin dia tidur nyenyak dan nggak nangis lagi. Di saat Abah nggak lagi cari kerja, dia akan lebih sibuk untuk nyuci dan membersihkan rumah karena menggantikan tugas Mamah yang lebih berat.

Memasuki usia SD, kesibukan lebih bertambah lagi. Mamah dan Abah adalah guru yang benar-benar luar biasa mengajarkan pelajaran, nggak hanya pelajaran sekolah, juga pelajaran tentang arti hidup dan kehidupannya. Kalau Icha nggak ngerti dan nangis karena nilai yang didapat kecil, Mamah dan Abah dengan siapnya memberikan semangat dan motivasi yang luar biasa.

Alhamdulillah nya, tahun 2006, Abah dapat pekerjaan tetap. Sejak saat itulah, keadaan keluarga kami mengalami perubahan. Walaupun masih banyak kebutuhan-kebutuhan yang masih kurang karena lebih mengutamakan kebutuhan Icha, Mamah dan Abah akan mengalah untuk itu. Bahkan rela puasa agar anaknya bisa kenyang tanpa harus kelaparan.

Adik baru Syifa lahir, menambah tanggung jawab dan amanah Mamah dan Abah untuk menjaga dua buah hatinya. Selama ini, Syifa tahu, mereka berdua bersusah payah untuk terus menjaga Syifa, udah banyak banget kebutuhan Syifa yang mereka berikan, nggak hanya berupa barang dan benda fisik lainnya, tapi lebih dari itu, waktu, tenaga, cinta, dan kasih sayang yang setiap anak butuhkan, Mamah dan Abah akan memberinya dengan tulus, ikhlas, dan ridha.

Selama ini juga, jujur, Syifa belum bisa banyak banggain mereka berdua, belum bisa berbakti sama mereka berdua, belum bisa ngasih apa yang mereka inginkan, lebih banyak menjengkelkan, lebih banyak menyebalkan, dan lebih banyak memusingkan mereka sampai Mamah pernah jatuh sakit hanya karena khawatir mikirin Syifa yang pulang sekolah lebih dari jam 4. Abah pun demikian, bahkan hampir melupakan kerjanya hanya gara-gara ikut khawatir anak perempuannya takut diapa-apain.

Mamah, Abah, maafin Icha ya kalau selama ini belum bisa buat apa-apa, belum bisa ngasih yang terbaik untuk kalian berdua. Hanya doa yang baru bisa Icha kasih selama ini. Buat Mamah, selamat tambah umur ya untuk 6 Januari kemarin, tetaplah jadi Mamah yang selalu marah akan anaknya kalau lagi nggak nurut. Terimakasih, aku sayang Mamah dan Abah karena Allah :) 😊 ❤❤❤❤

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥