Friday, January 3, 2014

#1Hari1Ayat hari ke-3 (Q.S. Al-Baqarah [2] : 42) “Sampaikan Kebenaran dengan Jelas”



“Dan janganlah kamu campurkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”
(QS Al-Baqarah [2] : 42)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip Imam Qatadah, “Jangan campurkan antara ajaran Yahudi dan Nasrani dengan ajaran Islam”. Ibnu Abbas menyampaikan bahwa maksudnya, “Jangan mencampurkan hak dengan batil, serta kebohongan dengan kebenaran”.

Ibnu Katsir juga menerangkan, “menyembunyikan kebenaran itu, sangat membahayakan manusia, karena tersesatnya manusia dari petunjuk”. Juga menyampaikan maksud ayat ini adalah, “kebatilan yang kalian campur dengan kebenaran dengan tujuan mudah menyebarluaskannya itu haram”.

Dalam ayat ini Allah melarang 2 hal, yakni mencampur-adukkan yang hak (benar) dan batil (salah) serta menyembunyikan yang benar. Karena tidak jarang Muslim yang mencampurkan hal baik dengan hal buruk, walau tujuannya baik karena sesuatu dan lain alasan. Misalnya, berdakwah (hak) namun supaya ramai dipadu dengan dangdutan (batil). Atau menghormati tetangga/teman (hak) namun dipadu dengan mengucapkan selamat natal (batil), mencintai (hak) namun berkhalwat (batil).

Selain itu, ayat ini juga mengingatkan kita menyampaikan kebenaran yang ada di dalam Al-Qur’an dan tidak menyembunyikannya. Jangan karena sungkan, tidak enak hati, lalu kebenaran tidak disampaikan, ini dinamakan dengan menyembunyikan kebenaran. Padahal..., kebenaran bisa disampaikan dengan cara yang baik, insyaAllah orang lain tidak akan tersinggung.

Bila kebenaran sudah disampaikan dengan cara baik dan masih orang tak suka, itu adalah bagian dakwah yang bahkan Rasul pun merasakannya. Daripada kita tidak menyampaikan kebenaran hingga yang salah tidak akan sadar dan yang benar akan ikutan jadi salah, ini bahaya besar.

***


Teman, tidak menyampaikan kebenaran itu hukumnya haram. Pepatah mengatakan, “sampaikanlah kebenaran walau itu pahit”. Mungkin, jujur untuk suatu hal terasa berat, ya Syifa juga pernah merasakannya, tapi demi kebaikan kenapa nggak?

Karena jika tidak pernah menyampaikannya, orang lain tidak akan pernah paham. Kebenaran, harus tetap disampaikan, apapun resiko dan konsekuensi yang akan kita terima. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Maka, tugas kita adalah mencari momen, cara, sarana, dan waktu yang tepat untuk menyampaikan yang benar, agar kebenaran lebih mudah diterima. Tapi bukan berarti harus mencampur-adukkan antara yang benar dan yang salah, apalagi kalau sampai menyembunyikan yang benar.

Masih ingat kan dengan prinsip perkalian bilangan bulat? Kok jadi ke Matematika ya? Hehe... Ingat rumus ini?
(+) x (+) = (+)
(+) x (–) = (–)
(–) x (+) = (–)
(­–) x (–) = (+)

Dari rumus tersebut, kita bisa menganalogikannya ke sesuatu yang terjadi sehari-hari. Anggaplah tanda (+) ‘positif’ kita sebut BENAR, dan tanda (-) ‘negatif’ kita sebut SALAH, jadinya gini nih:

Yang benar, dibenarkan, akan benar
Yang benar, disalahkan, akan salah
Yang salah, dibenarkan, akan salah
Yang salah, disalahkan, akan benar

Nah kan? Coba deh renungi kembali kalau memang kurang paham. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita menghafal dan mengamalkan ayat-ayatnya. Amin...

2 comments:

  1. Jadi apapun keadaannya kita dilarang menyembunyikan kebenaran yaah fa ..Hm
    Jadi renungan banget nih,
    Kan biasanya yaa gitu, suka 'gak enakkan buat nyampein sesuatu yang kita rasa gak tepat,:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak, apalagi kita tahu kalau seharusnya itu perlu disampaikan.

      Mungkin iya nggak enak, takut dijauhin sama orang itu misalnya, tapi kalau dia salah, dan kita biarin, malah kita yang dosa :)

      Delete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥