Monday, June 17, 2013

Menyemai Cinta: Panda Oh Panda

          Menyemai Cinta. Hmm...Sebenarnya aku sih nggak terlalu paham akan artinya sendiri. Namun, kayaknya aku punya cerita deh tentang 'Menyemai Cinta'. Bukan tentang lawan jenis sih (baca: cowok) tapi tentang seorang sahabat.



Sudah baca surat yang aku tulis ke temanku? Belum ya? Ya sudah, baca dulu Surat Panda ya. Kalau ndak mau baca, ya ora popo.

Jadi, masalah berawal mungkin gegara kesalah-pahaman. Dia bikin aku nangis hanya karena 'perkataan' yang dia sendiri belum tahu pasti kebenarannya. Selain mengatakan hal yang tidak sebenarnya, dia juga menyangkal terhadap perkataannya sendiri.

Sejak itu, aku memutuskan untuk jauh-jauh darinya. Aku kecewa sama dia. Aku menganggap kalau dia mengkhianati persahabatannya sendiri.

Selang dua bulan, aku masih kecewa padanya. Dulu, ia pernah meminta maaf. Tapi, kenyataannya apa? Ia tak pernah membuktikan 'permintaan maafnya' itu. Bahkan untuk sekedar membalas senyuman atau membalas sapaan aja, nggak. Aku makin kecewa, malah aku hampir membencinya. Memang, syaitan selalu menjejalkan penyakit hati ya bukan liver pada manusia.

Namun, semakin kesini, aku merasa bersalah. Dulu mungkin aku terlalu 'kekanak-kanakkan' untuk menilai sebuah kejadian atau peristiwa. Dan seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar, aku mulai tumbuh remaja. Dan itu artinya, aku harus menghargai setiap kejadian yang telah ditakdirkan padaku.

Aku lebih banyak berdoa pada-Nya, mengharapkan maaf atas keegoisanku dulu. Mencoba untuk meminta kembali persahabatan antara aku dengannya. Namun, Allah belum menakdirkanku untuk merajut persahabatan yang manis. Hanya saja, ia memberikan solusi untukku agar aku tahu harus bagaimana.

Lama setelah itu, aku hampir melupakan kejadian itu. Aku berpikir, mungkin dengan melupakan semua masalah bisa terselesaikan. Namun itu salah, semakin aku melupakannya, semakin rasa bersalahku muncul *tsaah*. Sejak saat itu, aku bertekad untuk meminta maaf. Jujur saja, mungkin aku tak pernah bersalah saat kejadiannya. Namun, bukankah dengan meminta maaf, semua hal akan terasa lebih indah? Hihi...

Aku tak pernah berani untuk mengatakannya langsung, begitupun dia. Tiap kali aku menghampirinya, ia sengaja menghindar. Baiklah, sepertinya dua lembar surat lah yang menjadi perwakilan atas suara hatiku.

Aku menulis surat itu, mencontoh dari surat yang pernah Ukhti Fia tulis. Namun tentu saja, dengan situasi dan kondisi cerita yang berbeda.

Bahkan untuk memberikan langsung kepada orangnya saja, aku perlu meminta bantuan teman-temanku. Cucun dan Lisna lah yang mengirimkan surat itu untuk Nanda, bukan aku.

Sejak April lalu, belum ada balasan dari suratku. Entahlah, apa ia memang berniat mengecewakanku selama ini? Namun yang kutahu, selalu ada cahaya di balik kegelapan. Aku terus bersabar untuk menunggu balasannya. Bagaimanapun, aku akan tetap bersabar.

Akhir Mei lalu, Amalia, yang juga menjauhiku karena lebih memilih Nanda, mencoba berbicara padaku. Katanya, ia sudah ikut membaca suratku itu. Jujur saja, kenapa harus Nanda memberitahukan isi suratnya pada orang lain, oh tidak, sahabatnya?

Kata Amalia, Nanda bingung untuk membalas suratku. Astagfirullahaladzim, sesulit itukah kata-kata yang kutulis hingga sukar untuk dibalas? Padahal, dengan menulis ''Aku Memaafkanmu'', itu pun sudah cukup. Aku lega. Atau mungkin, Nanda memang tak mau memaafkanku.

Siapa yang menanam, ia pulalah yang memetik. Aku tahu dulu aku salah karena terlalu egois, dan kini aku menyesal atas sifatku itu. Tapi, bagaimana dengan Nanda? Apa ia menyesal atau malah senang?

Hari demi hari, aku makin ngerasa bersalah. Jujur saja, belum mendapatkan maaf dari seseorang itu, rasanya kayak ada yang mengganjal di hati. Kayak ada yang mampet gitu ya.

Aku coba berpikir dimana posisi yang paling utama menjadi masalah. Alhasil, semuanya memang serba salah sih. Aku egois, dia juga. Aku sungkan, dia juga. Aku nggak berani, dia juga. Aaaahhh, kalau dua-duanya gitu, gimana mau baikkan?

Namun akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengakui kesalahan. Mengatakan padanya bla bla bla, dan hasilnya? TETAP NIHIL. Astagfirullah...

Namun, demi sebuah ukhuwah, aku mencoba untuk tetab bersabar dan melanjutkan perjuanganku. Bagaimanapun hasilnya, aku tetap berusaha agar kata 'MAAF' terlontar dari mulutnya. Aku berharap demikian.

Akan tetapi, dari tema giveaway yang dibuat -Menyemai Cinta-, sepertinya cerita Syifa ini belum sampai pada titik akhir. Masih berada dalam masa-masa pengujian. Walau begitu, setidaknya ada sedikit cerita 'Menyemai Cinta' dari Syifa ini. Doakan juga ya supaya tali persahabatan dengan Nanda membaik. Amin...

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka launching blog

7 comments:

  1. Semoga Allah memberikan jalan dan petunjuk apa yang terbaik untuk persahabatan kalian.

    Terima kasih partisipasinya, sudah tercatat sebagai peserta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin...Semoga ya Bunda.

      Oke. Sukses juga GA nya :)

      Delete
  2. GA bertemakan cinta lagi booming :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dibilang. Soalnya tema 'CINTA' itu familiar dan semua orang pasti bisa dan tahu tentang CINTA :)

      Delete
    2. Iya, karena CINTA itu Universal. Mudah untuk melakukannya :')

      Delete
  3. semoga hubungan kalian jadi membaik setelah ini... :)

    ReplyDelete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥