Wednesday, June 26, 2013

Kardus Oh Kardus


Sore itu masih terasa sesak. Entah udara yang panas begitu mendominasi atau perasaan hati yang masih tak jelas. "Kita sudah tidak cocok lagi." Kalimat itu masih berputar-putar di kepalaku sampai aku sendiri pun tak tahu apa maknanya.

Apa ada yang salah dari hubungan ini? Tidak cocok? Apanya? Pertanyaan yang masih ingin kutanyakan pada Arman saat dia memutuskan untuk meninggalkanku seorang diri di tengah ramainya sebuah cafe.

Apa yang mendasari sebuah ketidak-cocokan itu hadir? Bukankah dulu semua baik-baik saja? Kita sudah tidak cocok. Atau mungkin lebih tepatnya dia yang merasa sudah tidak cocok. Arman memutuskan untuk mencari orang yang lebih tepat dengannya dibandingkan aku. Mungkin dia sudah merasa tak nyaman menjadi orang yang kutitipkan sebongkah hati, maka ia kembalikan hatiku dengan goresan yang tampak dan terlalu besar untuk disembunyikan.

Satu, dua, tiga tetes air mata jatuh. Inikah cinta yang dulu diperjuangkan? Kenangan demi kenangan berjalan di otakku bagai siluet yang tak mungkin aku sangkal. Yang aku tahu cinta itu menyatukan dua sisi yang berbeda hingga dapat menjadi satu. Perbedaan pendapat, selera, pertengkaran, bukankah itu warna yang harusnya dapat dijalani?

Semua orang di sekitarku masih berbincang, tertawa, menjalani aktivitas mereka masing-masing, tanpa tahu apa yang baru saja Arman katakan. Lima kata yang diakhiri dengan pemberian sebuah kotak kecil.

Kotak yang berbalutkan kertas berwarna abu. Ah iya, aku menyukai warnanya, tapi mungkin sekarang tidak. Hatiku pun ikut kelabu. Hampir saja aku akan membuangnya, tapi jika menyimpannya dalam kardus, mungkin itu lebih baik.

Ya, kardus. Kotak berwarna coklat yang berukuran sedang ini, lagi-lagi Arman yang memberikannya padaku. Katanya, simpan kardus ini untuk tempat menyimpan semua pemberian darinya. Cinta, harapan, mimpi, angan-angan, dan semua kenangan bersamanya.
Bagiku, cukuplah menyimpannya dalam kardus itu. Agar saat membuangnya, tak sulit menemukan barang-barang itu lagi.

“Buang kardusnya!”

“Buang!!”

Hatiku bergejolak, antara ingin membuangnya atau tidak. Tapi…, aku merasa jika kardus itu disimpan di gudang rumah saja. Membiarkannya berdebu, kotor, atau bahkan rusak sekalipun.

9 comments:

  1. Kasihan yaa si tokoh 'aku'nya. -.-
    Nonfiksi kah ini? wkwk

    ReplyDelete
  2. Nggak kok Kak, itu fiksi, cuma mungkin namanya nyata xD

    ReplyDelete
  3. kardus nya di kiloin aja ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, jangan Kakak. Itu kardusnya berarti banget xD

      Delete
  4. Replies
    1. Waah...Terimakasih Kakak :) Seneng kalau ada yang suka :)

      Delete
    2. Waaah...Terimakasih Kakak. Seneng kalau ada yang suka :D

      Delete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥