Sunday, June 9, 2013

Bali Bids Aloha: Bali Untuk Kembali

Bali Untuk Kembali
 
Sumber: NET

Kakiku masih saja melangkah ketika matahari sudah menuju arah barat. Daganganku belum banyak laku terjual, masih banyak godoh gedang yang harus kujual. Ibu terlalu tua untuk bekerja seperti ini, kakinya sudah rapuh dengan segala masalah yang ia tanggung sendiri. Aku sudah putus sekolah sejak SMA dan berusaha membantu ibu dengan berjualan godoh gedang dan kacang asin di sekitar Pantai Kuta ini.
Aku melangkah lagi, menapaki setiap kehidupan dengan mencoba bersabar. Aku tahu, janji-Nya takkan pernah ingkar.
Di tengah sinar matahari yang mulai tenggelam, aku berhenti di sebuah kelompok wisatawan dari luar kota yang sepertinya dari Jakarta. Mereka memanggilku, dan bertanya apa yang aku jual. Aku menjawabnya dengan ramah agar mereka tertarik untuk membeli.
“30 ribu dapat berapa?” sebuah suara lelaki yang paling dekat denganku bertanya. Aku menghitung jumlah godoh gedang dan kacang asin yang aku bawa.
“Semuanya, Bli,” aku menjawabnya. Dia mengeluarkan selembar uang 50 ribu dan memberikannya kepadaku. “Semuanya yah,” senyum terbentuk di bibirnya. Aku sempat menyelami senyum tersebut, namun aku segera membungkuskan semua daganganku ke dalam plastik.
Matur suksma,” aku memberikan senyumku dan lantas pergi dari tempat itu sebelum aku melirik pada wajahnya. 

***

Keesokan harinya, aku kembali ke dalam aktivitasku seperti biasa, menjual godoh gedang di Pantai Kuta. Hari ini, satu alasan yang berbeda yang membuatku semangat kembali kesana. Ya. Karena dia, lelaki yang memberikan senyumannya kemarin. Wajah lelaki itu membayangi mimpiku tadi malam. Tapi… Aku terlalu berkhayal tinggi, nampaknya. Menurutku, cinta itu tidak mungkin menjamah orang sepertiku, apalagi cinta pada pandangan pertama.
Setelah sampai, aku duduk di sebuah akar pohon dekat pantai sambil mencoba menghirup aroma air laut yang khas. Ternyata masih terlalu pagi, pantai ini masih kosong dengan pasir pantai yang berwarna putih gading bersih. Sinar matahari yang malu-malu menampakkan sinarnya menembus beberapa helai pohon kelapa yang seperti enggan diganggu oleh angin. Aku mengagumi pulau  ini, kota ini, kota yang memberikan aku air untuk hidup, tanah yang aku pijak untuk mengawali hari seperti pagi ini.
Beberapa menit kemudian, mulai banyak orang yang berdatangan. Aku siap akan hari ini, bagaimanapun keadaannya.
Dari kejauhan, tampak ada serombongan lagi orang yang datang ke pesisir selatan Denpasar ini. Aku berusaha mengamati siluet wajah para wisatawan itu dari sini. Dan tiba-tiba saja mataku terkunci pada satu wajah, aku sadar akan hal itu, tapi bukannya berpaling, aku justru menikmati keindahan dari setiap lekukan wajahnya, matanya yang tajam dan menyimpan sesuatu, bibirnya yang tersenyum akan pemandangan di hadapannya. Aku mulai mengaguminya dalam diam.
Sebelum ia dan teman-temannya sampai, aku bergegas bangun dan bersembunyi di balik sebuah pondok yang menyuguhkan beberapa makanan khas Bali lain. Aku mengamati dia yang tersembunyi oleh beberapa orang temannya. Tiba-tiba saja bibirku membentuk segaris senyuman. Oh Tuhan, apa-apaan ini? Aku membalikkan badan dan berusaha menenangkan diri. Aku merasa tubuhku lemas dan jantungku seakan ingin melompat keluar untuk mengejar laki-laki itu. Aku rasa memang ada yang salah dengan diriku hari ini.
“Mba, godoh gedang dan kacang asin-nya masih ada?” sebuah suara dari balik pundak mengagetkanku, tapi seolah aku sudah merekam setiap frekuensi suaranya, aku tahu siapa yang yang berbicara denganku kali ini. Dan aku masih terpaku ketika dia melangkahkan kakinya ke hadapanku dan menatapku sambil tersenyum seperti kemarin. Ya Tuhan, makhluk apa dia? Terlalu indah untuk dikategorikan sebagai manusia, namun terlalu nyata bila dikategorikan sebagai malaikat. Dia melirik ke keranjang yang aku bawa, dan melihat bahwa daganganku masih penuh. Aku kembali tersadar dan berusaha memahami situasi yang tak terduga seperti ini.
“Ada, Bli,” jawabku gugup. Bodoh sekali, mana pernah aku seperti ini sebelumnya? Aku merasa benar-benar tidak enak badan.
“Ayo ikut saya, godoh gedang-mu yang kemarin enak sekali. Aku tadi mencari disana tapi tidak ada yang menjual lagi selain....,” dia melihat ke arahku seperti menanyakan nama, tapi sebelum menjawab aku masih sempat tenggelam di matanya yang hitam.
“Wida,” aku menjawab pertanyaannya sambil mengikuti arah lelaki itu membawaku. Dia membawaku ke sebuah tenda yang penuh sesak dengan teman-temannya seperti kemarin.
“Hey, lapar ‘kan ? Nih gue bawa penjualnya langsung kesini!” Dia sedikit berteriak memanggil teman-temannya. Untuk beberapa saat aku terlalu sibuk memberi beberapa bungkus godoh gedang dan kacang asin, namun dia tetap berada di sampingku, tidak pergi.
“Kenapa kamu berjualan seperti ini?” Dia kembali bertanya setalah semua daganganku habis tak bersisa. Aku menundukkan kepala setiap kali mendengarnya. Terlalu sering aku dilontarkan pertanyaan seperti ini. Dan aku sudah hafal apa yang harus aku jawab.
“Ekonomi,” aku menjawabnya. Dia hanya menatapku diam. Aku tak habis pikir, apa yang dia inginkan? Apakah hidupku penting untuk dia ketahui? Aku memikirkannya terlalu jauh, terlalu berangan-angan. Barang kali dia bertanya karena merasa kasihan padaku, seorang gadis lusuh dari selatan Bali. Setiap pagi harus berjalan menjajakan dagangan hanya untuk menghidupi dia dan ibunya.
“Ikut aku,” dia menarik tanganku yang masih memegang keranjang. Aku berusaha mengikuti langkahnya dengan gontai. Kepalaku pening karena mendapat sentuhan mendadak dari tangan yang bahkan tidak aku ketahui siapa namanya. Dia berbalik arah, melewati beberapa pondok dan penginapan, dia bergegas mengajakku untuk mengikutinya.
Disini, yang terlihat hanyalah batu karang sisa-sisa zaman prasejarah, air laut yang biru, cahaya kekuningan, aku dan dia. Aku berusaha untuk tidak lupa bagaimana caranya menarik nafas, berusaha mengingat bagaimana caranya mengedipkan mata setiap kali bertemu dengan wajahnya yang tegas namun misterius. Dia menyuruhku duduk di atas sebuah perahu nelayan yang sepertinya sudah rusak dimakan waktu. Aku langsung menurutinya.
“Namaku, Sandhy,” aku menoleh ke arahnya yang kini sedang menatap laut tak berujung. “Aku besar di kota metropolitan yang sesak dengan manusia. Yang penuh dengan aktivitas dan keegoisan. Aku memutuskan untuk berlibur ke Denpasar karena ini adalah kota kelahiranku.” Aku berusaha mencari-cari makna dari apa yang telah dia katakan, namun matanya tidak mengisyaratkan apapun, terlalu tertutup untuk orang luar sepertiku.
“Aku tidak pernah tahu kehidupan disini seperti apa, aku selalu diberi kemewahan sejak kecil. Ketika aku betemu kamu kemarin, seorang gadis cantik yang terlihat sangat lelah untuk menjajakan dagangannya pada wisatawan lokal disini, aku mulai mengerti perbedaan. Perbedaan tentang memandang hidup, tentang bagaimana kita berusaha.”
Aku masih terdiam mendengar ceritanya yang panjang. Ungkapan dan tanggapan dirinya tentang diriku, dan apa yang dia dapatkan setelah melihat aku. Aku menghela nafas panjang.
“Aku hanya memiliki seorang ibu yang kini sudah tua untuk menafkahiku. Aku tidak ingat bagaimana bahagianya memiliki ayah karena dia meninggalkan kami ketika aku masih belum mampu untuk mengucapkan kata ayah. Aku dibesarkan dengan cinta orang tua tunggal, dengan sesuap nasi yang terkadang kurang untuk kami berdua. Yang aku inginkan saat ini hanyalah membuat ibu bahagia.”
Semilir angin menjawab diam kami dengan nyaman. Pantai Kuta yang indah telah membuka apa yang telah aku pendam selama ini. Diam-diam air mataku bergulir. Aku tidak mengerti dengan keadaanku sekarang. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Sandhy mengusap air mataku.
“Aku mengerti sekarang,” matanya menatapku dengan lekat. Dia beranjak dari tempat duduknya, dan kembali membawaku ke tempat dia mendirikan tenda.

***

Selesai menikmati hidangan ikan bakar dan makanan khas Bali lainnya, aku dan Sandhy duduk berhadapan ke arah laut, sambil sesekali tersenyum saling menatap satu sama lain. Pasir Pantai Kuta yang hangat menjadi sejarah pertemuan kami hari ini. Aku sempat memikirkan ibu yang sedang ada di rumah, namun aku memusatkan kembali pikiranku ke pulau seribu warna ini, dengan malaikat yang tengah duduk di sampingku. Kami berbincang tentang masa kecilku, tentang aku yang selalu menghabiskan waktu di Pantai Kuta sambil melihat wisatawan asing yang silih berganti. 
Aku menceritakan bahwa aku belum pernah melihat kota lain selain kota Denpasar dan belum pernah melihat pantai lain selain Pantai Kuta. Sandhy pun bercerita tentang kehidupannya yang singkat disini, hanya tiga tahun, dan hanya sedikit yang dapat diingat oleh Sandhy tentang kota ini. Orang tuanya selalu memberikan apa yang dia butuhkan, namun tak pernah memberikan dia kasih sayang semenjak mereka tinggal di Jakarta. Lalu Sandhy bercerita bahwa dia memiliki keinginan untuk menikah di kota kelahirannya.
Aku serta-merta menahan hatiku agar tidak terasa sakit mendengarnya. Aku berpikir bahwa mungkin Sandhy sudah memiliki calon istri yang sepadan dengannya. Yang bisa ia bawa kesini lalu dinikahinya. Lagi pula, siapa aku? Berani-beraninya berharap bahwa Sandhy kelak akan menjadi ‘seseorang’ bagiku. Kalaupun itu terjadi, mungkin hubungan itu takkan pernah seimbang. Aku, gadis yang terbuang, bahkan oleh ayahku sendiri. Mana mungkin dapat disejajarkan dengan Sandhy? Aku menyadari semua itu, namun tak mengurangi apa yang aku rasakan saat ini padanya.
Air laut yang menari dipermainkan ombak, semakin sore seperti asyik merayapi batu karang yang membentuk fatamorgana silau disirami sinar matahari yang mulai menguning. Aku tidak mengerti dimensi waktu saat bersama Sandhy, semua menjadi terlalu cepat tanpa benar-benar kita sadari.
Dan celah-celah awan yang putih. Terpancar cahaya terang dari sang matahari yang mulai turun. Mengintipku yang mulai diam menatap sinarnya dengan ragu. Seolah ingin mengkristalkan waktu. Agar tidak terucap satu kata perpisahan hari ini.
Pantai Kuta yang berwarna-warni mulai terlihat gelap seiring dengan terbenamnya sang surya. Sandhy melihat kearahku, “Kau melihat ini setiap hari?” tanyanya sambil kembali menatap matahari di ujung lautan.
“Ya, hampir setiap sore,” aku menjawabnya sembari tersenyum. Langit menyapaku lebih dari biasanya. Seolah mengerti suasana hatiku saat ini. Ombak dari Pantai Kuta menyapu kaki kami dengan lembut.
“Aku mencintai kota ini dan aku berjanji suatu saat nanti akan kembali lagi untuk memeluk tanah Denpasar ini bersama seseorang,” suaranya yang beriringan dengan angin sore menghangatkan hatiku.
“Jangan pernah berjanji untuk hal yang sulit kamu tepati,” aku berbalik badan dan meninggalkan Sandhy yang masih tertegun oleh perkataanku.

***

Pagi itu, sehari setelah bersama Sandhy, aku mencoba mencarinya di sekitar Pantai Kuta. Berharap hari itu dapat terulang sama manisnya dengan kemarin. Namun, tak sedikitpun ada tanda-tanda Sandhy disana. Kini aku tahu, Sandhy hanyalah seorang lelaki yang datang ke kehidupanku tanpa memikirkan apa dan bagaimana perasaanku. Dia pecundang, yang tak mungkin akan kembali lagi kesini untuk menemuiku
Aku mencoba memikirkan ulang apa yang terjadi kemarin. Dan apa yang harus aku lakukan kedepannya. Tentu saja aku harus tetap berjualan jika memang aku dan ibu masih ingin bertahan hidup. Dan melupakan suatu hal yang muluk tentang cinta, tentang kebahagian jika memiliki seseorang. Aku berusaha menepis angan-angan itu.

***

Sudah enam bulan. Dan aku masih saja menatap pesisir Pantai Kuta ini. Aku berusaha untuk tidak pergi kesana. Melihat kenanganku di balik pepohonan warna-warni yang tersimpan rapi di pulau itu.
Aku terlalu naif, mempercayai orang kota yang baru aku kenal. Dan yang lebih bodoh, aku menyadari bahwa aku mencintainya! Meski itu rasa yang baru untukku, tapi aku tak mungkin bisa menyangkal. Siluet demi siluet tentang Sandhy aku singkirkan setiap harinya, berusaha untuk tidak memikirkan orang yang hanya dalam sehari dapat merubah hidup dan perasaanku sampai sekarang.
Aku tak berani menceritakan ini kepada ibu. Sudah terlalu banyak beban yang ibu tanggung untuk kehidupanku. Aku tidak mungkin menceritakan hal sepele mengenai kisah cintaku yang singkat di Pantai Kuta beberapa bulan yang lalu.
Aku diam dan menatap ombak yang datang. Mengusik ketenangan pasir-pasir lalu pergi, tetapi ombak tak pernah lupa untuk kembali.
“Aku punya seribu warna untuk melukiskan tintanya di hatimu, Wida,” aku tertegun mendengar suara itu, mengenal bisiknya yang selama ini aku buang jauh-jauh. Namun aku tidak berani untuk menoleh, itu hanyalah sebuah kenangan dan halusinasi yang terbentuk dari apa yang aku pikirkan.
Aku terdiam, tidak tahan untuk mencari asal suara yang memang benar-benar terdengar nyata. Aku menoleh dan tak seorangpun yang ada di balik bahuku. Aku menghembuskan nafas kecewa.
“Maukah kau menjadi seseorang yang selalu ada untukku?” Seketika aku menoleh ke depan dan melihat Sandhy sedang tertunduk dan mengamati wajahku yang terlihat sangat terkejut. Ini bayangan, tidak mungkin. Aku mematung dan menatap sosok yang sangat mirip dengan Sandhy di hadapanku ini.
“Kamu terlalu marah? Hingga tidak mau menjawabnya sama sekali?” Dia menyentuh wajahku dengan lembut. Aku menggeleng-gelengkan kepala dan menyadari bahwa ini nyata. Bukan bayanyan, bukan halusinasi belaka. Ini Sandhy, malaikat dengan pesona yang hingga kini masih tidak aku mengerti keindahannya. Aku terpaku di matanya yang kini menatapku, hanya beberapa senti di depan wajahku.
“Wida?” Suaranya terdengar panik dengan diamku yang berkepanjangan. Aku mencoba mengumpulkan detak jantungku yang kini berhamburan.  Seketika aku memeluk tubuh Sandhy. Menghirup aromanya, berusaha mengenali surga apa yang sedang berada di dalam pelukku. Dia mengusap rambutku lembut, dan tak henti-hentinya meminta maaf. Aku menarik kepalaku dari dadanya dan kembali menatap wajahnya.
“Jadi?” Dia menarik sebelah alisnya sambil tersenyum penuh arti.
Aku tersenyum, “Iya.” Lalu kembali menariknya dalam dekapan hingga Sandhy tak mungkin lagi pergi, jika tanpa aku.
Sore itu, di Pantai Kuta, telah tercipta surga yang luar biasa indah untukku. Dengan bisik angin yang menyapa kami, seolah mengerti telah adanya janji yang diucapkan antara sepasang insan di Pulau Dewata ini.
Kami, sepasang tangan yang telah terpaut, bukan hanya saling melengkapi, namun juga saling menguatkan antara perbedaan.
Aku menginginkannya, dengan segala keterbatasan yang aku miliki. Aku mengaguminya dengan segala kemampuan. Aku mencintainya, hingga ketika dia tertidur, kelopak matakulah yang tertutup.***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Bali Bids Aloha di www.itdoesexists.wordpress.com

Bali Bids Aloha

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥