Tuesday, May 14, 2013

Surat Panda


Ini adalah surat yang kutulis untuk seorang sahabatku, Nandawati Utami Putri L

Kepada :
Sahabatku yang dulu ada di sampingku
Di Bumi-Nya yang Maha Rahim

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Apa kabarmu hari ini? Kuharap engkau selalu dalam limpahan kasih sayang iman dan islam-Nya.


Sahabatku, izinkan aku untuk memulai kata demi kata surat ini dengan menuliskan satu kalimat kunci, yaitu, "Aku masih ragu akan perkataanmu."

Nan, entah dirimu sadar atau tidak. Hampir selama 5 bulan ini, kamulah yang selalu membuat aku ragu, namamulah yang selalu membuat aku ingat akan kejadian itu, dan kehadiranmulah yang selalu membuatku jauh menghindarimu...

Sahabatku, entah apakah ini adalah sebongkah perasaan rasa benci yang syetan jejalkan pada hatiku? Ataukah ini memang benar-benar jalan takdirku? Yang kutahu, selama 5 bulan itu dirimu sudah cukup membuat hati ini merasakan kecamuk hati yang membuatku geram, kesal, kecewa, bahkan menangis.

Nan, awalnya aku merasa kejadian itu hanyalah hal biasa yang pasti kulalui dalam hidupku. Tiada kesan yang cukup berarti. Tetapi mengapa, seiring waktu berjalan, justru hati ini makin benci pada hal itu? Dan lambat laun justru keadaan itu semakin parah dengan aku yang tak ingin berpapasan denganmu karena marah yang teramat. Sekali lagi aku tak mengerti, apakah itu rasa benci?

Sahabatku, seperti yang dikatakan dalam hadist, pertengkaran yang melebihi 3 hari, hukumnya dosa. Dan aku merasa mawas diri akan hal itu. Kita telah berjauhan lebih dari 3 hari. Dan waktu 5 bulan itu bukanlah waktu yang tak sedikit. Aku tak mengerti mengapa aku bisa melewati waktu 5 bulan itu. Aku tak pernah mengerti, Nan... Tapi jika memang aku tak salah, Allah telah menakdirkan hal ini terjadi padaku. Ya, rasa itu. Ragu.

Empat bulan lamanya aku 'tersiksa' oleh perasaan ini. Ya, tersiksa. Aku tak bisa berkomunikasi denganmu seperti aku berkomunikasi kepada sahabatku yang lain, aku terlalu canggung untuk melakukannya. Entahlah, aku merasa terlalu takut untuk mengatakan satu patah kata pun kepadamu. Dan bahkan, Sahabatku, terkadang aku ingin membuatmu sama-sama kesal. Terkadang aku sengaja seperti menekankan perkataanku tiap kali kamu lewat. Aku tak pernah mengerti mengapa aku harus bersusah payah melakukan itu padamu, padahal diri ini sama sekali tak tahu apakah kamu benar-benar menganggapnya?

Terkadang aku menjawab pertanyaan tersebut dengan berkata kepada hatiku sendiri, "tentu saja kau juga pasti kesal, kalau tidak, kenapa kau seperti selalu berusaha menutup diri di depanku dan kenapa kau selalu berusaha menghindar dari hadapanku?"

Tetapi Sahabatku, kenyataan yang membuatku sadar justru datang padaku akhir-akhir ini. Entah dari siapa yang memulai, entah itu sahabat-sahabatku yang lain atau memang dari diriku sendiri. Tapi, yang aku tahu, itu adalah kehendak-Nya yang tak bisa dipungkiri lagi.

Dan kau tahu, aku sama sekali tak menyangka aku akan mendapatkan petunjuk yang luar biasa! Ya, aku tau. Allah memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, begitupun Ia sangat mengasihi dan menyayangiku.  Tetapi, aku juga tau kalau ini adalah saatnya untukku mengatakan apa yang bersarang dalam hatiku selama ini. Itulah mengapa, awalnya aku tak peduli tentang petunjuk yang diberikan-Nya. Terkadang aku mengira, ini hanyalah pikiran yang tak bermakna. Bahkan, kesempatan-kesempatan yang diberikan-Nya untuk melakukan hal ini, sering aku buang dan aku abaikan.

Meskipun dirimu masih membuatku ragu, aku tetap tak bisa menolak keinginan-Nya ini. Bagiku, jika memang sudah saatnya untuk mengatakan hal ini,  pastilah Allah sudah menyusun rencana yang baik untuK kita.

Maksudku, aku telah siap untuk menuangkan segala curahan hatiku selama ini kepadamu. Dan aku tahu, Allah akan melancarkan semua niatku yang InsyaAllah tujuannya memang baik.

Aku tak mengerti bagaimana perasaanku saat menuliskannya dalam secarik kertas surat ini. Terus terang dan untung saja saat itu aku sedang bersemangat. Sehingga, perasaan kecewa yang mungkin seharusnya kurasakan itu pelan-pelan ditepis kepastian diri. Aku mulai menyadarinya...

Tetapi ada beberapa hal yang perlu kau ingat!
1. Aku masih ragu dengan perkataanmu.
Bukan karena kita sudah berjauhan lantas aku melupakan segala ingatan dan memori yang dulu pernah terjadi. Aku masih ingat akan hal itu, aku benar-benar masih mengingatnya. Kata demi kata yang dulu kau ucapkan, masih terngiang jelas di pikiranku.
Akan tetapi, Dia telah menyadarkanku, kesadaran agar aku menjadi orang yang bisa kau jadikan tempat curahan jiwa. Semua karena Dia, karena Sang Maha Bijaksana. Aku tak ingin ibadahku kepadaNya terganggu karena masalahku denganmu. Aku tak ingin rasa benciku padamu membuatku melakukan hal-hal yang aneh. Maka sebenarnya, aku memang masih ragu, tapi aku sudah pelan-pelan menenggelamkannya dalam catatan kehidupanku jauh sebelum aku mendengar permintaan maaf darimu.

2. Aku masih mengharapkanmu kembali.
Kau tahu, hidupku masih terlalu kurang untuk menjadi bagian dari makhluk ciptaan-Nya. Aku masih membutuhkan orang-orang yang menjadi pengisi hatiku. Mereka yang namanya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz untuk menjadi sahabat sejatiku. Dan apakah kau berpikir, kaulah salah satu diantara banyak orang itu, mereka yang menjadi teman, kawan, sahabat, dan saudaraku?

Terus terang aku cukup yakin akan hukum '1000 orang sahabat masihlah kurang, 1 orang musuh terlalu banyak'. Maka aku yakin, masih ada banyak orang yang mau menjadi sahabatku, dan aku harap kau pun salah satu diantara mereka.

Sahabatku, sungguh, aku hampir berhasil melaksanakan tugas-Nya, dan itu semua berkat Dia. Aku bersyukur Dia sangatlah sayang padaku, sehingga Dia telah tunjukkan jalan yang terbaik untukku. Dirimu yang memang seharusnya kembali seperti dahulu. Dia telah menunjukkan padaku, bahwa aku bisa mengubah keadaan antara kita menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Sahabatku, maafkan aku apabila ada kata-kata yang kurang berkenan. Aku ini hanyalah hambaNya yang dhaif dan masih sering terlena jebakan syaitan nirrajim.

Sekian surat dariku, semoga kita semua mendapatkan yang terbaik menurutNya, Aamiin..

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Itu adalah surat yang Syifa tulis untuk salah seorang sahabat Syifa yang akhir-akhir ini sedang menjauhi Syifa. Kalau tidak salah, Syifa mengirimkannya bulan Maret yang lalu. Akan tetapi, sampai saat ini, belum ada balasan darinya. Apakah itu balasan surat, balasan sapaan, dan hal lainnya. Jujur, Syifa memang kecewa, tapi ya sudahlah… Mungkin Allah belum menakdirkan kami untuk saling bermaafan betul-betul. Hanya saja, harapan Syifa suratnya bisa dibalas diiringi balasan hati yang sudah terbukakan. Amin Ya Robbal Alamin.

Oh iya, FYI, ini surat sebenarnya ‘fotocopy’-an dari surat Ukhti Fia. Tapi, yang pasti, situasi, kondisi, dan keadaan cerita dalam suratnya jelas berbeda, dong ya. *Maaf ya Ukhti, nggak izin dulu ;;)*

4 comments:

  1. iya nggak masalah Ti :D

    hihihi, pantes kok rasanya ini surat ga asing sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...Abisnya waktu itu lagi blank banget mikir kata-katanya :D

      Delete
  2. :D
    untuk seumuran syifa, ini kalimat udah sangat bagus... jadi malu, nuat nulis isi hati aja kadang nggak bisa sebagus ini...


    mudah2an syifa ama sahabatnya bisa kembali baikan seperti dulu lai. Amiin y Allah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih Kak Lusia. Ini pun nyontek dari surat temen aku kok xD

      Amin amin, semoga ya aku bisa baikkan sama dia :)

      Delete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥