Tuesday, April 2, 2013

Teruntuk Kakak


Kakak



Malam sudah jauh malam, tapi aku masih saja tak dapat memejamkan mataku barang sekejap. Aku masih memikirkan cerita apa yang harus kuserahkan pada guru Bahasa Indonesiaku untuk perlombaan nanti. Aku terlalu takut menyusun kata-kata ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghalangiku untuk menorehkan kalimat-kalimat di atas kertas bergaris itu.

Untuk kesekian kalinya, aku masih memandangi kertas di depanku. Kosong. Hanya ada satu kata yang tertera di atas bagian tengah, Kakak. Ya, hanya judul. Apakah aku memang tak pernah mempunyai bakat untuk menulis?

Dua bulan yang lalu, aku baru mengenalnya. Perkenalan melalui jejaring sosial. Aku memang baru mengenalnya –sangat baru– tapi aku merasa lebih dari itu, menganggapnya sebagai Kakak (palsuku), terlebih aku memang tak mempunyai kakak kandung.

Banyak hal yang kami bagi satu sama lain, menulis, cerita, puisi, novel, buku, itu yang kami senangi untuk diceritakan. Tak hanya itu, masalah kehidupan pun kadang kubagi pula, walaupun aku yang terlalu sering bercerita padanya. Persahabatan, perselisihan, percintaan, senang-sedih, suka-duka, galau, semua kutumpahkan cerita tersebut pada Kakak. Kupikir Kakak memang baik dapat mendengarkan cerita anehku ini, awalnya.

Waktu terus berlalu, dan cerita-cerita hidupku sudah banyak yang kubagi padanya. Saran dan tanggapan Kakak masih menjadi komentar dari masalahku itu. Tapi, sudah empat hari ini Kakak menghilang, tak ada lagi pembicaraan itu, tak ada lagi kalimat puitis untuk menanggapi ceritaku.

Kakak kemana? Apakah Kakak bosan dan muak terhadap ceritaku? Apakah Kakak malas berbicara denganku? Apakah Kakak tak ingin mengajarkanku tentang dunia tulis-menulis ini? Kenapa Kak? Kenapa?

Kakaklah yang menjadi alasanku untuk menulis cerita ini. Kakaklah yang memberiku inspirasi agar aku tak menyerah dalam menulis. Kakaklah yang selalu menjadi penyemangatku agar aku selalu berusaha atas apa yang aku inginkan. Dan karena Kakaklah aku masih bisa melanjutkan cerita ini.

Di luar sana, ada banyak kesempatan yang dapat aku ambil yang lebih baik dari hal menulis ini. Tapi, karena Kakak pulalah aku masih setia dengan bidang ini. Aku memang masih takut merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat ini, tapi dari semangat yang Kakak ajarkanlah, aku berani menulis cerita tak jelas ini.

“Kak, inilah cerita yang kutulis hanya untuk Kakak seorang. Aku tahu Kakak pergi karena perilaku kekanak-kanakkanku. Tapi, entah harus bagaimana lagi, aku bingung bagaimana menyampaikannya, dan dengan cerita inilah aku berharap Kakak dapat kembali lagi, setia membaca dan mendengarkan ceritaku, memberikanku semangat menggebu, dan mengajarkanku tentang dunia tulis-menulis lagi. Aku rindu saat-saat itu. Aku rindu. Kembalilah, Kak,”. I<3PA

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥