Saturday, April 6, 2013

Mendung di Dalam Hujan

Awan Cumulunimbus sudah menggumpal di langit. Pertanda hujan akan turun. Cepat-cepat aku berlari menuju halte bus. Benar saja dugaanku, tetesan hujan mulai membasahi aspal jalan. Kulirik jam di tangan.
Tepat pukul 06.30.
“Mati aku. Bisa telat masuk sekolah, nih. Mana sekarang ada ulangan. Nyesel aku nggak ikut Abang tadi,” gerutuku.
5 menit berlalu, bus belum datang juga. Angkot pun tidak terlihat. Sial sekali pagi ini. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Aku mengenalinya. Aji, siswa IX-E. Aku juga mengenali sosok yang duduk di sampingnya.
Secara perlahan kaca mobil belakang turun, dan mulai memperlihatkan sosok yang ada di dalam mobil. Benar saja tebakanku. Ternyata itu Nanda. Sahabat karibku. Dulu. Ya, sahabatku yang dulu selalu bersama denganku.
“Pagi, Indah. Kamu ikut kita aja. Hujan begini, bus akan lama sampai. Nanti kamu telat masuk sekolah lagi,” ajak Aji.
Nanda hanya diam tanpa melirikku sedikitpun.
“Makasih tawarannya. Tapi lebih baik aku menunggu disini saja,” jawabku.
“Tapi, kamu bisa telat masuk sekolah. Iya kan, Nan?” tanyanya pada Nanda. Tapi dia malah diam seribu bahasa.
“Aku sangat berterima kasih. Tapi aku sudah terlanjur janji sama orang,”.
“Ya udahlah, Ji. Dia bilang kan nggak mau. Jadi jangan dipaksa. Lagipula kalau dia ikut cuma ganggu kita saja,” ujar Nanda tanpa melihatku.
“Benar, Ji,” jawabku dengan senyum yang terpaksa.
Untuk yang ketiga kalinya Aji menawariku. Tapi aku tetap menolaknya. Iapun melesat dengan mobil yang dikendarai oleh supirnya. Sebenarnya, bukannya aku tak ingin menerima tawarannya itu, tapi aku hanya ingin melihat reaksi Nanda saat aku menolak tawaran Aji. Dan hasilnya sangat mengecewakan. Dia sama sekali tidak mempedulikanku. Sahabatku yang dulu kini telah berubah. Sosok Nanda yang tak pernah kukenal sebelumnya.

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥