Saturday, April 6, 2013

Kekurangan Tak Mampu Menghalangi Harapan


Kekurangan Tak Mampu Menghalangi Harapan

Terkadang aku berfikir hidupku ini tak seharusnya begini. Sesekali aku ingin sekali berontak pada Tuhan mengenai semua yang terjadi. Tapi apa daya diri ini tak mampu berbuat apa-apa lagi.
“Kenapa kondisi hidupku sekarang seperti ini?”
    Hanya kalimat tanya seperti itulah yang kulontarkan setiap hari, dan berharap Tuhan mendengarkannya. Seandainya kejadian lima tahun lalu tidak terjadi, hal seperti ini pun tak mungkin bisa menghampiri. Kecelakaan maut itu tak akan bisa hilang dan terbang di dalam pikiranku. Kedua orangtuaku meninggal seketika di tempat kejadian dan menyisakan banyak luka juga kenangan.
Semuanya berawal dari kecerobohan kakakku yang sok pintar ingin mengendarai mobil kami. Padahal saat itu kami semua tahu, bahwa kakakku masih dalam masa pelatihan kursus menyetir. Seketika ia kehilangan kendali hingga mobil kami oleng dan tak diduga menabrak mobil lain yang berada tepat di depan kami. Mobil yang dikendarai kakakku terpental jauh hingga terseret dan masuk ke dalam jurang sedalam 20 meter. Alhasil, ayahku meninggal di tempat karena terhimpit oleh badan mobil yang rusak berat, sementara ibuku hilang karena terpental jauh dan keluar dari dalam mobil. Beruntung nasib baik masih berpihak padaku dan juga kakakku. Tapi tetap saja hatiku terpukul melihat jasad ayahku yang berlumuran darah dengan posisi terlentang dan terjepit badan mobil tepat di hadapanku.
     “Lihat! Ini semua akibat perbuatanmu Kak, sekarang apa yang bisa kita lakukan?” teriakku memarahi kakak.
    Hanya kalimat singkat itulah yang sampai saat ini terus kukatakan pada kakak. Dan sampai selamanya aku tak akan pernah bisa memafkannya atas semua kejadian pahit yang menimpa keluargaku itu.
    Kini kakiku cacat total, karena harus di amputasi akibat mengalami infeksi yang cukup parah di bagian lutut ke bawah. Sementara kakak ku hanya mengalami luka ringan saja di bagian tangan dan wajahnya. Aku merasa ini semua tak adil baginya. Seharusnya dia mendapat luka yang lebih parah dariku, karena semua ini murni kesalahannya.
Sekarang ini dengan bebasnya dia berjalan kesana-kemari bersama beberapa teman kampusnya. Tapi apa yang terjadi denganku? Aku hanya bisa berdiam diri di rumah dengan mendapat pelajaran dari guru privat, dan aku sama sekali tidak memiliki teman. Semua anak sebayaku tak mau berteman karena melihat kondisiku yang cukup memprihatinkan. Dan sampai kapan aku bisa bertahan dalam menghadapi semua cobaan Tuhan yang di berikan?
    Kakak memang sesekali menyemangatiku akan hal ini, dan berulang-ulang memintaku agar tak terus menyalahkannya. Tapi itu semua sama sekali tak bisa. Aku amat membencinya walau sebanyak apapun ia memohon dan bersujud di hadapanku.
    “Ayo De, maafkan kakak! Kakak benar-benar tak menyangka kejadiannya akan seburuk ini. Lima tahun kamu memusuhi kakak, dan kakak tak mau kamu terus begini De . . .” ucap kakak yang setiap hari terus membujukku.
    “Apa? Maaf? Tidak segampang itu kak, apa dengan kakak minta maaf ayah dan ibu akan kembali? ENGGAK kak!” teriakku sambil menangis dan lagi-lagi teringat akan kejadian tragis itu.
    Sempat aku berpikir, sampai kapan hidupku akan terus menerus seperti ini. Aku ingin sekali bangkit dan keluar melihat dunia, tapi aku benar-benar tak bisa dengan melihat kondisiku saat ini. Aku tak berani jika harus pergi keluar rumah, karena aku takut orang-orang diluar sana semuanya mengejekku dan mengacuhkanku. Aku sangat takut Tuhan . . .
     Selain home schooling, hari-hari kulewati dengan menghabiskan waktu di kamar dengan menulis. Aku sangat senang mencurahkan semua isi hatiku ke dalam sebuah goresan pena di atas kertas putih bersih. Hanya alat itulah yang menemani setiap hari-hari sepiku. Karena aku tidak memiliki tempat untuk meluapkan semua emosiku selain kertas dan pena itu. Tapi kakakku lagi-lagi datang mengganggu kehidupanku, ia bersikeras menyuruhku untuk berhenti menulis dan mencoba membujukku agar mau melihat dunia di luar sana. Tapi aku takut semua orang akan mengacuhkanku, kakak benar-benar tak mengerti dan aku semakin saja membencinya.
    Suatu ketika aku sedang tidur pulas, kakak secara diam-diam masuk ke kamarku dan mengambil buku harian yang biasa kupakai untuk mencurahkan semua isi hatiku. Saat itu juga tanpa sepengetahuanku, kakak mengirimkan tulisan itu ke dalam sebuah redaksi penerbit buku dan berharap mereka mau menerbitkan buku untuk tulisanku itu. Dan saat ku tanya soal keberadaan buku harian itu, kakak tidak mau menjawabnya dan hanya berkata,
    “Kakak sedang mencoba membuatmu bangkit De, kakak tak ingin melihat kamu terus menerus larut dalam kesedihan dan kesendirian,” ujarnya pada ku seperti biasa disertai dengan senyuman manisnya. Aku sama sekali tidak terpengaruh, karena memang hati ku t'lah sepenuhnya membencinya.
    Satu bulan berlalu, pihak penerbit mendatangi rumahku. Mereka mencari kakakku yang bernama Antonio Ramadhan, dan berkata bahwa mereka tertegun melihat tulisanku yang memang sedikit mengharukan juga penuh perjuangan di dalam kesendirian. Kakak memanggil ku seketika untuk memberi tahu kabar baik ini. Aku yang tidak mengerti hanya bisa terheran dan bertanya-tanya soal apa yang terjadi sebenarnya. Kakak dan pihak penerbit menceritakan semuanya hingga membuatku terkejut dan terharu. Ternyata kakak benar-benar ingin aku bangkit dari keterpurukan, dan tak ingin terus menerus melihat ku sendirian.
Berbulan-bulan kini tulisan ku makin di gemari para pembaca. Bahkan mereka sampai membuat perkumpulan khusus untuk para penggemar buku ku dengan nama "Alicia Putri FansBook". Aku sangat senang dan tak menyangka, kakakku yang selama ini kuanggap jahat dan tak pernah peduli, ternyata mampu membangkitkan semangatku lagi. Kini aku sadar bahwa kekurangan itu bukanlah hal yang bisa menahan semua harapan juga impian.
Pada suatu hari penerbitan buku baru ku di gelar bersamaan dengan konferensi pers untukku. Semua peminat pembaca buku hadir, dan jumlahnya tak bisa kuhitung lagi. Tak kusangka hasil karyaku selama ini bisa sukses dan mempunyai banyak penggemar. Mereka semua terkagum karena orang tak sempurna seperti aku bisa menerbitkan buku yang luar biasa. Aku semakin termotivasi berkat dukungan mereka, dan aku semakin semangat dan tak pernah lagi takut untuk melihat dunia.
    Ketika konferensi pers berlangsung, betapa aku dan kakakku terkejut saat melihat salah seorang penggemarku nekat maju ke atas panggung dengan meneriaki namaku juga langsung memelukku. Dan ternyata dia adalah ibuku. Ibuku yang selama ini diduga hilang dalam kecelakaan lima tahun lalu. Ternyata ia selamat dan selama lima tahun ini terus menerus mencari keberadaanku dan kakakku. Sampai ia mendapati kabar di televisi dan media cetak bahwa aku sekarang ini telah menjadi seorang penulis dan akan mengadakan konferensi pers di salah satu gedung ternama.
Kini keluarga ku t'lah kembali berkumpul, walaupun tidak bersama ayah tercintaku. Tapi aku sangat bersyukur pada Tuhan karena t'lah mengabulkan doa dan harapanku selama ini. Aku sadar jika kekuranganku ini tidak seharusnya disembunyikan tapi justru harus kutunjukan. Karena aku tahu, Tuhan selalu mempunyai rencana di balik semua cobaan yang diberikannya.


No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥