Wednesday, April 10, 2013

Haram


HARAM




       Dalam akidah Islam, setiap perbuatan baik yang diawali bacaan “basmallah” dan diakhiri ucapan “tahmid” adalah ibadah. Ada ibadah wajib, ada ibadah sunnah. Demikian juga dalam hukum: ada haram, ada halal. Dalam konteks beribadah, mengerjakan sesuatu yang haram berarti melanggar perintah Allah alias berdosa, karenanya akan mendapatkan hukuman siksa di neraka. Bila meninggalkan yang haram artinya mendapatkan pahala.
       Rasulullah SAW pernah bersabda dalam bahasa yang lugas, jelas, dan tidak multi-tafsir mengenai masalah tersebut. “Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Diantara keduanya ada perkara yang syubhat samar-samar. Barang siapa menjauhi yang syubhat, berarti dia telah berserah diri untuk menjaga agamanya dan akhlaknya. Dan, barang siapa yang melakukan syubhat, dia akan jatuh ke dalam keharaman. Ibarat penggembala di dekat taman terlarang, selangkah lagi gembalaannya (nafsunya) pasti masuk ke dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja itu ada larangannya. Ingatlah (Dia Maha Raja), larangan Allah itu adalah perkara-perkara yang haram.” (H.R. Bukhari – Muslim).
       Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa “haram” bagi rokok dan bagi golongan putih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Aneh bin ajaibnya, “pengharaman” itu tidak berlaku bagi seluruh umat Islam. Bahkan ada catatan khususnya, dalam hal merokok “haram bagi anak-anak, ibu hamil dan menyusui”.
       Dengan logika demikian, maka pasti daging kambing pun suatu saat akan “diharamkan” bagi para penderita darah tinggi, jantung, dan asam urat. Hukum macam apa itu? Tidak konsisten. Tidak istiqomah. Tidak taat asas. Ambivalen. Ambiguitas. Mendua. Kacau!
       Fatwa tersebut kalau hanya terbatas sebagai “imbauan moral” bagi Muslimin-Muslimat, tidak memasuki wilayah haram, dapat dimaklumi. Namun, karena sudah merambah kepada wilayah ibadah, berbeda persoalannya. Sebab, haram dalam terminologi Islam, itu artinya kalau dikerjakan berarti melanggar perintah Allah, berdosa, pasti akan disiksa di neraka. Atau, jangan-jangan ada motif materi dan duniawi kepada pihak tertentu di balik fatwa tersebut?
       Padahal Allah SWT mengajarkan keistiqomahan, konsistensi dalam penerapan hukum. Firman-Nya “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 82).
       Nabi Muhammad SAW pun dilarang ketika mengharamkan madu, walau untuk dirinya sendiri. Karena motifnya untuk menyenangkan istri-istrinya yang cemburu kepada salah seorang istri Rasulullah yang lain, yang biasa menyuguhkan madu dan melahirkan putra Nabi SAW bernama Ibrahim.
       Allah SWT berfirman: “Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu; kamu hanya mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. At-Tahrim [66]: 1).
       “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Q.S. Yunus [10]: 59)
       “Dan, janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah . Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Q.S. An-Nahl [16]: 116)
“Dan, kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku serta dari sapi dan domba. Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, kecuali lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang ada di dalam perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami menghukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.”(Q.S. Al-An’am [6]:146)
       “Orang-orang yang menyekutukan Tuhan, akan mengatakan; ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan–Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ’Adakah kamu memiliki suatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta,”(Q.S. Al-An’am [6]: 148).
       “Katakanlah: ‘Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwa Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan itu.’ Jika mereka mempersaksikan, maka jangalah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka menyekutukan Tuhan mereka.” (Q.S. Al- An’am [6]: 150)
       “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, melainkan dengan sesuatu sebab yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya.” (Q.S. Al-An’am [6]: 151)
       “Dan, yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menyerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An’am [6]: 153)
       Dari beberapa ayat Al-Quran yang dikutip di atas, sangat jelaslah bahwa hanya Allah SWT yang paling berhak menentukan yang halal dan haram. Bukan berdasarkan akal, apalagi dengan motif dan niat agar pihak tertentu membagikan sebagian keuntungannya dan memberikan kontribusi yang signifikan, dengan dalih, untuk kemajuan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Akal bukanlah sumber hukum. Fungsi akal dalam hal ini hanya terbatas untuk memahami, menalar fakta permasalahan dan nash-nash syara’ yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Bukan untuk menentukan halal-haramnya masalah!
       “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik.” (Q.S. Al-An’am [6]: 57).  “Menetapkan hukum hanyalah hak Allah. Dia memperintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Q.S. Yusuf [12]: 40).  “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih termasuk hukum, maka putusannya terserah kepada Allah.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 10)
       Kesimpulannya: Hanya Allah Azza Wajalla yang menjadi Musyarri’ (Pembuat Hukum) dalam masalah ibadah. “ingatlah, Menciptakan dan Memperintahkan hanyalah hak Allah.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 54).Wallahu’alam.
      
Disadur dari: “BUKU HARIANKU” karya DARATIA WIDIA PRIMA.

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥