Saturday, April 6, 2013

Goresan Kilat di Badan Pelangi


Goresan Kilat di Badan Pelangi

Pagi yang kelabu tak nampak semburat mentari menyapaku. Langit begitu pucat seperti halnya wajahku yang pucat menatap hari di balik jendela kamar rawatku di Rumah Sakit Islam Jakarta yang dekat dengan tempat tinggalku.
Kala itu aku sedang menunggu detik-detik waktu untuk menghadapi sebuah operasi Liver cysts yang harus segera aku jalani. Umurku memang masih terbilang cukup muda untuk merasakan sakit yang begitu parah.
Rasanya aku pun cukup kecewa kala menyapa pagi itu yang tak secerah hari kemarin. Saat aku sedang menyapa pagi yang kelabu itu terdengar getaran handphone milikku diatas tempat tidur di kamar rawat itu. Aku yang sedang terduduk diatas kursi roda langsung beranjak mengambil handphone milikku itu.
Ternyata itu adalah SMS dari pacarku, Alfin. Tumben sekali pagi hari itu Alfin SMS aku, biasanya juga harus aku yang memulai SMS padanya.
Kamu udah bangun?isi SMS dari Alfin untukku.
Aku pun langsung membalas SMS dari Alfin. Ketika SMS-an, aku dan Alfin tak biasanya sampai SMS-an yang begitu panjang lebar dan bercanda-canda, menggombal karena biasanya dia hanya membalas SMS dariku dengan semaunya saja bahkan membalas dengan begitu singkatnya.
Senang sekali rasanya impianku bisa merasakan perubahan sikap yang begitu tak terduga dari Alfin kepadaku setelah 9 bulan kami berdua pacaran. Aku merasakan sedang terbang diatas awan bersama burung-burung merpati yang indah, kemudian terduduk diatas lengkungan pelangi.
Saat aku sedang merasakan kesenangan yang tiada terkira sebelum esok hari melaksanakan operasi Liver cysts, tiba-tiba Alfin SMS aku seperti berikut.
Kalau memang Tuhan menghendaki, pasti kita bertemu lagi Sayang!” SMS-nya kepadaku.
Aku kira Alfin SMS aku seperti itu karena jarak antara kami berdua yang memisahkan, saat itu aku sedang berada di Jakarta dan Alfin berada di Surabaya yang tinggal menetap disana bersama kedua orangtuanya.
Namun, pikirku ternyata salah! Bukan itu yang Alfin maksud, tapi Alfin akan segera pergi untuk melanjutkan studinya di Belanda, ia diajak oleh pamannya untuk beberapa tahun menetap disana.
Sakit memang yang kurasa, kenapa tak sebelumnya Alfin mengatakan bahwa dia akan pergi ke Belanda dan mungkin saja akan menetap selamanya atau tidak akan pulang kembali atau bahkan dia akan bersama perempuan lain.
Aku patah hati sekilas bayanganku yang sedang terduduk manis diatas lengkungan pelangi itu ambruk sekejap karena goresan kilat yang datang secara tiba-tiba.
Aku menangis sendiri tak mampu menahan butiran kaca-kaca yang membelai pipiku, kenapa harus disaat aku sedang terbaring lemah Alfin mengatakan itu semua, kenapa tidak dari sebelumnya? batinku menjerit.
Aku kecewa dalam sanubariku berbisik apa yang ada dipikirannya Alfin? Sampai tega membuat hancur hatiku dan warasku yang sudah tak mau hidup lagi seperti sebelumnya sehingga sempat membuatku tak ingin melaksanakan operasi saat itu. Namun, sekejap hatiku terbangun ketika menatap mata ibuku yang mengkhawatirkan keadaanku kala itu. Sehingga membuatku berpikir aku harus berani menghadapi hari esok dan selanjutnya meski tanpa Alfin karena di depan mataku ada ibuku yang menyayangiku dengan tulus.
Dari saat itu aku memulai hidupku dengan harus selalu mencoba belajar memahami bahwa semua rencana Tuhan yang tak sesuai dengan harapan kita akan selalu berakhir dengan baik untuk kehidupan kita semua selanjutnya. Habis Galau Terbitlah Move On itulah sekarang prinsipku.



No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥