Saturday, April 6, 2013

Abang: Menulislah!


Abang : Menulislah !




Malam sudah jauh malam. Mataku masih saja mencari huruf-huruf, kata-kata, bahkan kalimat-kalimat yang tepat untuk cerpen yang akan kuikut sertakan dalam lomba nanti. Bisikan-bisikan syetan semakin menggaung keras di telingaku. Mataku sudah lelah. Jari-jari tanganku lemas seperti tak berdarah. Memang sudah seminggu ini aku bermain dengan malam, dan aku sudah berhasil menaklukkan malam-malam itu, tak terkecuali malam ini.
Pekerjaanku ini terasa berat, berat sekali, dan memang sangat berat sekali. Aku memang sudah lama meninggalkan dunia tulis menulis –yang dulu menjadi hobi kesayanganku. Aku jenuh. Aku bosan. Jujur saja, aku merasa semua karya yang telah kuciptakan tak pernah menjadi kebanggaan, semua yang telah kutulis —di buku harian ataupun buku lainnya— seakan tak berarti, sia-sia. Kalau tak ada Abang, mungkin aku sudah membuang semua coretan-coretan ini. Namun aku teramat sayang padanya. Begitu sayangnya pada dia.
Kata Abang, aku tak boleh berhenti menulis. Apapun yang terjadi, aku harus tetap menulis. Bagaimanapun hasil tulisanku, aku tetap saja harus menulis. Abang, tak pernah lelah menanam kata-katanya dalam memoriku akan menulis. Ingatan yang jika aku melupakannya, seakan aku telah melakukan sesuatu kesalahan besar padanya. Di luar sana, banyak dunia lain yang mungkin lebih menyenangkan dan menjanjikan untukku, hidupku, dan kehidupanku. Aku memang pernah merasakannya, tapi aku teramat merasa berdosa terhadap Abang, jika aku melupakan dan menghilangkan hobi menulis itu.
Abang memang belum lama menjadi pembimbingku. Dua bulan yang lalu aku bertemu dengannya, baru sesingkat ini –sangat singkat. Namun rasanya, sosok Abang tak pernah tenggelam sejak pertemuan itu.
Ah . . . maka dari itu, kutulis cerita ini untuk Abang. Aku tak tahu apakah Abang masih bersemangat membimbingku atau tidak, tetapi aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mewujudkan apa yang Abang inginkan. Cita-citaku hanyalah dapat menulis seperti Abang. Aku tak ingin mengecewakan Abang.
“Bang . . . ini cerita baru untuk Abang. Kumohon Abang tetap ada, sekalipun aku mudah jenuh, mudah muak dengan dunia tulisan ini. Tapi aku akan tetap menulis untuk Abang,”.
Kupersempahkan cerita ini untuk Abang, agar Abang tau, bahwa aku merindukan bimbingan Abang seperti dulu.

Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa merubah. Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa menghibur. Menulislah, karena yakin tulisan kita bisa memahami. Menulislah, dengan keyakinan bahwa itu bisa merubah, menghibur, dan menemani. Menulislah! Karena dunia ini akan jauh lebih baik jika semua orang pintar menulis. Menulislah!”
-Tere Liye-


No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥