Tuesday, October 16, 2012

Jendela Tanpa Kaca


Empat tahun sepeninggal Papa dan Mama mereka berdua, di rumah yang megah dan besar itu seakan sepi, bagaikan menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-hari mereka cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Terlepas dari lingkungannya. Terlepas dari alam bebas yang indah ini.
Hanya ada Dela, Kak Aca, seorang pembantu rumah tangga, Mbok Ati, dan seorang supir pribadi, Pak Udin.
''Mbok, sepatu Dela mana? Mau berangkat sekolah nih, lama banget sih! Gak disiapin ya?'' teriak Dela.
''Maaf, Non, Mbok lupa, ini Non,'' dengan tergesa-gesa, Mbok Ati menyerahkan sepatu Dela.
''Euuuh...Udah tua, pikun lagi,'' ucap Dela merendahkan.
Kebiasaan Dela memang begitu, kepergian Mama dan Papanya membuat sikap lemah lembutnya menjadi berubah, menjadi arogan, sombong, dan egois. Sama halnya dengan Kakaknya, Kak Aca, entah pikiran apa yang menjadikan mereka berdua berubah 180 derajat. Dulu, mereka baik, rajin, lemah lembut, dan periang, tapi karena tragedi kecelakaan itu, mereka benar-benar berubah. Sungguh, perubahan yang tak pernah terduga.
''Pak, nanti pulang sekolah, jemput Aca dulu. Jam 2 siang, harus pas, gak boleh telat!'' perintah Kak Aca saat sedang berada di dalam mobil.
''Enak aja, Dela dulu. Kemarin, Kakak. Sekarang, Kakak. Jangan gitu dong!'' timpal Dela ketus.
''Terserah Kakak dong. Kenapa kamu yang ngatur. Lagian Kakak ada janji, nah kamu, mau apa? Heuh? Foya-foya? Habisin uang buat jalan-jalan ke mall bareng sama temen-temen yang matre itu?'' bentak Kak Aca.
''Emangnya siapa? Temen aku cuma Cecil, lagian dia gak matre tuh. Emangnya Kakak juga gak ngabisin uang apa? Kakak pernah 'kan jalan-jalan ke Singapura bareng sama pacar Kakak yang katanya baik itu, tapi apa buktinya? Dia sama aja kayak cowok lain, matrealistis?''
Plaaaaaak...
Tamparan keras mengenai pipi kanan Dela, suasana di mobil itu seakan menjadi tambah gaduh, karena suara mereka yang begitu keras. Pak Udin, tak bisa menahan keributan itu, karena jika ia melakukan hal demikian, tamatlah sudah pekerjaannya.
Tiba di sekolah Dela, Dela tidak mau keluar dari dalam mobil.
''Non, sudah sampai,'' ucap Pak Udin sopan.
''Tuh, udah nyampe di sekolah, cepetan keluar,'' Kak Aca seakan mengusir Dela dengan lagak sombongnya.
''Gak mau. Dela gak mau sekolah. Apa kata temen-temen Dela nanti, datang sekolah kok kayak keroyokan dulu,'' jawabnya sambil mengelus pipinya lembut.
''Heuh...Dela...Cepetan, masuk sekolah. Kamu kira guru kamu bakal maklum, kalau seorang Jenita Dela Andina gak masuk sekolah cuma karena ditampar. Alasan yang aneh,'' seru Kak Aca.
''Sekali gak mau, tetep gak mau,''
Pintu mobil terbuka, dan . . .
Bruuuuuuuuuuk, Kak Aca sengaja mendorong Dela untuk keluar dari dalam mobil.
Dengan geram, Dela menendang pintu mobil itu. Baginya, lecet, rusak, atau bahkan hilang sekalipun pada mobil itu, tak menjadi masalah besar. Toh, ia masih bisa beli baru lagi.
Dengan kesalnya, Dela masuk sekolah. Ia membayangkan bagaimana jadinya nanti, jika teman-temannya bahkan Winda menertawakannya karena pipi kanannya itu. Aaah...Pasti itu sangat memalukan.
''Delaaaa...'' panggil seseorang dari belakang seraya menghampiri Dela.
''Hai...Cecil,'' balasnya.
''Gimana kabar kamu hari ini?'' sapanya dengan wajah ceria.
''Agak kurang baik,''jawab Dela sambil menunjukkan pipi kanannya itu.
''Ya ampun, pipi kamu kenapa? Berantem lagi sama Kakak kamu? Yaaah...Dela...Dela...,''
''Kak Aca, nampar aku gara-gara aku sebut pacarnya matre. Terus, aku didorong dia dari mobil buat keluar, tuh liat lutut aku jadi berdarah gini,'' tambah Dela.
''Ya udah, kita ke UKS dulu yuk. Kalau nggak, takutnya infeksi,'' ajak Cecil.
***
Pipi kanan Dela mulai membaik, tadi sedikit agak membiru, seakan bertambah parah hingga menjalar pada bagian gigi. Tapi, beruntung, ternyata itu hanya sementara. Namun, luka di lutut Dela lumayan bengkak, Winda pun sempat mencibir Dela, tapi bagi Dela, hinaan Winda itu memang tak berarti. Mungkin saja, Winda iri padanya.
''Cecil, makasih ya. Untung aja ada kamu, jadi lukanya gak sampai infeksi,''
''Iya...Sama-sama. Makanya kamu jangan berantem terus. Oh iya, kita ke toko buku yuk. Kayaknya hari ini ada buku baru deh,'' ajak Cecil.
''Ayo...''
Di perjalanan, Cecil seakan menyembunyikan satu hal yang menggembirakan bagi dirinya sendiri bahkan Dela. Dia terkadang tertawa sendiri melihat tingkah laku Dela. Aaah...Sungguh benar-benar tepat, pikirnya.
Bagi Cecil, di toko buku langganan itu serasa di surga, disana banyak sekali buku-buku, mulai dari buku pelajaran, buku fiksi, ensiklopedia, dan masih banyak lagi. Tapi, berbeda dengan Dela, ia ke toko buku hanya sekadar mengantar Cecil dan cuci mata, karena kasir disana bisa dibilang tampan menurutnya, walaupun umurnya terpaut jauh dengan Dela. Ada dua kasir disana, kembar pula, namanya Kak Bias dan Kak Binar. Sama-sama tampan. Sama-sama smart. Dan Dela suka mereka.
''Oh iya, kata kamu tadi ada buku baru. Pengen baca dong, siapa tau minat nih,'' Cecil agak bingung mendengar ucapan Dela, tapi di sisi lain ia senang.
''Nih, semoga bagus deh bukunya,'' Cecil memberikannya dengan tersenyum manis.

JENDELA TANPA KACA
Cecilia Revita Minan

''Haah...Benarkah?'' tanya Dela kebingungan.
''Iya, itu buku karangan aku, kebetulan hari ini launching disini. Jam 2 nanti, bakal ada Meet n' Greet lho,'' balas Cecil bangga.
''Cieee...Kayaknya seru tuh, tambah seru kalau dapat tanda tangan Cecil dan gratis pula,'' canda Dela seraya memberikan senyuman terindahnya pada Cecil.
''Iya...Apa sih yang gak buat Dela ini,''
''Sejak kapan kamu belajar ngegombal? HaHaHa. Oh ya, bukunya tentang apa sih?''
''Baca aja coverbacknya, semoga kamu bisa ambil hikmahnya,'' tambah Cecil.
***
Pertemuan Meet n' Greet buku Cecil yang keempat itu, lumayan rame, Dela pun ikut mengantri pada barisan fans Cecil, layaknya penggemar sejati yang setia membaca buku-buku karangan Cecil.
Jam menunjukkan pukul 17.00, sepertinya benar, Kak Aca ada urusan. Dela merasa ada yang tidak nyaman atas kepergian Kak Aca. Entah kenapa.
Waktu berlalu, jam dinding itu terus berbunyi, jam 22.00. Kak Aca belum pulang juga. Rasanya baru pertama kali ini, Dela merasa kesepian, karena Kak Aca belum pulang. Setahu Dela, Kak Aca sering pulang sore, atau kalaupun ia terlambat, hanya sampai jam 7 malam, tidak sampai larut benar, karena Kak Aca mengambil mata kuliah pagi, bukan malam.
Mbok Ati dan Pak Udin sekali-kali menengok kepada Dela, memastikan apakah Dela sudah tidur atau belum. Dan pastinya, mereka pun khawatir karena Kak Aca belum pulang juga. Pak Udin sempat menanyakan pada teman kampusnya, tapi mereka pun tidak tahu.
Dela tidak bisa tidur, menunggu Kak Aca. Ia teringat, buku Cecil. Ia ambil bukunya, dan lalu membacanya. Hanya beberapa halaman saja, tapi ia sudah mengerti maksudnya. Rasanya, cerita karangan Cecil itu seperti catatan kehidupan Dela saat ini, tapi ada satu kejadian yang tidak pernah Dela rasakan, Kakak dari Jeje, tokoh utama itu meninggal dunia karena kecelakaan. Dela merasa aneh saat itu. Ia memutuskan untuk meminta Pak Udin mengantarnya mencari Kak Aca, jam 23.45 di Jakarta masih ramai, seperti baru jam 7 saja, jadi tidak terlalu khawatir baginya.
***
Dela tersenyum melihat gundukkan tanah di hadapannya. Sudah 1 tahun Kak Aca meninggal akibat kecelakaan itu, tapi Dela selalu merasa bahwa Kak Aca selalu ada di dekatnya. Dela berjongkok di samping batu nisan nya, dan menaburkan bunga di makamnya.
"Kakak lagi apa disana? Kabar Kakak gimana? Baik-baik aja ‘kan? Kakak tau gak? Dela kangen sama Kakak, rasanya Dela ingin nyusul Kakak kesana. Dela ngerasa kesepian gak ada Kakak. Kangen pas kita berantem. Kangen pas Kakak nampar pipi Dela. Kakak kenapa gak ajak-ajak Dela, Kakak lagi main ya sama Papa dan Mama," ucapnya menangis sambil mengelus batu nisan nya yang terdapat tulisan 'Kinanta Aca Cantika'.
Dela merasa, ia ingin menggantinya dengan namanya saja. Dan rasanya, ia pun ingin menggantikan Kak Aca di bawah gundukan tanah itu. Ia membayangkan, pasti disana, Kak Aca sedang berkumpul dengan Paph dan Mama.
"Cecil…Kenapa kamu bikin buku itu? Kenapa harus Jendela Tanpa Kaca ? Kenapa?" gumam Dela.

No comments:

Post a Comment

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥